0leh:Rosadi Jamani
BELAKANGAN nama Jusuf Kalla alias JK sering muncul di beranda. Namanya berkibar. Itu setelah ia nyenggol ijazah Jokowi, lalu dilaporkan kader PSI ke polisi. Apakah ini strategi Politik?
Awalnya sederhana tapi berasa seperti bensin disiram ke bara. Di konferensi pers di rumahnya di Jakarta Selatan, Sabtu 18 April 2026, JK kelihatan kesal karena ikut terseret pusaran isu ijazah Jokowi. Dengan nada emosi yang jarang keluar dari sosok setenang dia, keluar kalimat yang langsung jadi legenda digital.
“Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya. Tanpa saya bawa dia dari Solo jadi gubernur DKI, mana bisa jadi presiden?”
Sebuah klaim jasa politik yang bukan cuma pengingat sejarah, dari dorongan ke Megawati Soekarnoputri sampai kursi RI-1, tapi juga sekaligus nasihat. “Sudahlah, tunjukkan saja ijazahnya biar rakyat berhenti bertengkar.” Satu kata “termul” berubah jadi mata uang baru di TikTok. Meme beranak-pinak, timeline penuh potongan video, dan nama JK langsung trending tanpa rem.
Belum sempat suasana adem, babak berikutnya muncul seperti plot twist sinetron yang ditulis sambil ngopi tiga gelas.
Tanggal 5 Maret 2026, JK ceramah di Masjid UGM tentang konflik Poso dan Ambon, dua luka lama yang dulu dia bantu damaikan.
Dengan gaya juru damai, dia bilang, “Tunjukkan ke saya, agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada.”
Intinya jernih, jangan bunuh atas nama Tuhan. Tapi di negeri algoritma, kejernihan sering kalah cepat dari gunting editor. Video dipotong-potong seperti trailer film horor, konteks dihilangkan, narasi dipelintir, dan boom, ledakan kedua.
Organisasi seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Pemuda Katolik, dan beberapa ormas Kristen melaporkan JK ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama.
Bahkan Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) ikut nimbrung dalam drama laporan. Ada kader dari Partai Solidaritas Indonesia yang ikut meramaikan, meski partai menegaskan itu bukan sikap resmi.
JK yang biasanya kalem berubah jadi gerah. Dia menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan mulai mempertimbangkan langkah hukum balik kepada para pemfitnah.
Puncaknya datang Senin 20 April 2026. Aliansi Profesi Advokat Maluku, lewat advokat Paman Nurlette, resmi melaporkan Permadi Arya alias Abu Janda dan Ade Armando ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.
Tuduhannya, mereka diduga pertama menyebarkan potongan video ceramah JK dengan narasi penghasutan. Seolah sengaja menyulut api di antara umat Islam dan Kristen.































































































Beri Komentar