0leh: Erizal
KALAU Jusuf Kalla (JK) dan Joko Widodo alias Jokowi saja yang dulu mesra berpasangan bisa bersengketa, apalagi Jokowi dan Prabowo Subianto, yang dulu bertarung sengit dalam dua kali Pilpres, berturut-turut?
Sampai saat ini saja, pihak Jokowi wanti-wanti mengingatkan bahwa Prabowo menjadi Presiden karena Jokowi, bahkan karena pesona Gibran Rakabuming Raka yang tak ada duanya, kata mereka.
JK yang marah besar karena merasa “dikerjai” pihak Jokowi dan terlompat mengklaim bahwa Jokowi menjadi Presiden karena dirinya, buru-buru ditepis pihak Jokowi bahwa itu tidaklah benar.
Justru JK-lah yang menumpang popularitas Jokowi, sehingga duduk enak sebagai Wapres untuk kedua kalinya. Buktinya, saat JK maju bersama Wiranto, JK kalah telak, tidak hanya oleh SBY, tapi juga Megawati.
Maksud marah JK yang merasa “dikerjai” pihak Jokowi tidak sampai, justru marahnya itu dianggap mengada-ada dan menjadi bumerang buat JK sendiri.
JK masuk dalam kasus ijazah Jokowi karena merasa dituduh mendanai pihak Roy Suryo. Artinya, maksud hati ingin membela diri, justru diserang dengan video ceramah di UGM yang sudah lama.
JK benar-benar terlihat head to head dengan Jokowi dan juga Gibran, dan JK kalah telak.
Kenapa JK kalah telak? Karena JK melaporkan pihak Jokowi dan meminta Jokowi menunjukkan ijazahnya. Sebab, yang boleh melaporkan itu bukan JK, tapi pihak Jokowi. Sejak dulu, rasanya sudah begitu pakemnya.
Kemudian, JK emosional dan mengklaim Jokowi menjadi Presiden karena dirinya. Itu tidak saja kalah telak, tapi juga salah besar. Agaknya, JK kurang sadar hal itu.
Lihatlah, bagaimana respons Jokowi? Santai dan datar. Jokowi mengatakan dia bukan siapa-siapa. “Saya orang kampung, “kata Jokowi merendah, yang sebetulnya meninggi melampaui JK.
Bahkan, Gibran ikut serta juga berkomentar. “JK idola saya, teladan kita semua,” kata Gibran. Ini membuat JK benar-benar terlihat selesai dan tak mudah lagi untuk bangkit tanpa strategi yang memadai.
Maka yang diperlukan JK, tidak hanya ahli hukum atau pengacara, tapi juga ahli komunikasi dan polster yang canggih pula.
Kalau JK mengatakan komunikasi pemerintahan Prabowo bermasalah, maka komunikasi JK dalam kasus ini juga bermasalah.
JK tak akan mudah menghadapi pihak Jokowi, kalau tidak memakai strategi ganda.
Menurut saya Jokowi memakai strategi ganda, bukan hanya strategi tunggal. Sebut saja atas dan bawah.
Strategi atas dimainkan Jokowi, strategi bahwa dimainkan para pendukungnya, yang membuat JK marah dengan memakai istilah Termul.
Kalau JK tak memakai strategi ganda juga, bahkan tiga strategi kalau perlu, maka JK akan kalah dan capek sendiri saja.































































































Beri Komentar