UPDATE

TEKNOLOGIINTERNET

ASEAN Foundation Luncurkan ‘Scam Ready ASEAN’ untuk Tanggapi Lonjakan Penipuan Online di Asia Tenggara

KUALA LUMPUR – ASEAN Foundation hari ini meluncurkan Scam Ready ASEAN, sebuah inisiatif regional yang bertujuan memperkuat pencegahan terhadap penipuan online di seluruh Asia Tenggara.

Program ini diumumkan pada Google 2026 Online Safety Dialogue di Kuala Lumpur pagi tadi, sebuah forum yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pelaku industri, dan pakar keamanan yang berfokus pada penanggulangan ancaman penipuan dan fraud online yang semakin meningkat.

Didukung oleh Google.org dengan pendanaan sebesar USD 5 juta, program ini bertujuan membangun ketahanan terhadap penipuan bagi 3.000.000 orang di seluruh ASEAN, mewakili salah satu inisiatif pertahanan digital terbesar di kawasan dalam menghadapi penipuan online.

Scam Ready ASEAN berupaya membekali masyarakat ASEAN dengan pengetahuan, kepercayaan diri digital, dan keterampilan berpikir kritis yang diperlukan untuk mengenali dan mencegah penipuan dalam lingkungan online yang semakin kompleks.

Ancaman yang Memengaruhi Masyarakat di Seluruh Kawasan

Penipuan online telah menjadi salah satu risiko digital dengan pertumbuhan tercepat yang dihadapi Asia Tenggara, melampaui batas negara, sektor, dan komunitas.

Meskipun transformasi digital ASEAN telah menciptakan peluang ekonomi dan sosial yang signifikan, hal ini juga meningkatkan kerentanan terhadap penipuan berbasis siber.

Hanya pada tahun 2024 saja, Asia Tenggara mengalami kerugian finansial diperkirakan sebesar USD 23,6 miliar akibat penipuan online.

Sepanjang tahun 2025, Indonesia mencatat lebih dari 411.000 laporan kasus penipuan online, dengan estimasi kerugian finansial mencapai sekitar USD 550 juta (sekitar Rp9 triliun), menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).

Jenis penipuan yang paling umum meliputi phishing, rekayasa sosial, penipuan berkedok identitas (impersonation), penipuan investasi online, serta penipuan melalui pembayaran QR, yang semakin didorong oleh pemanfaatan kecerdasan buatan, platform pembayaran digital, dan taktik lintas platform.

Sebagai respons, Pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah, termasuk memperkuat regulasi keamanan siber, meluncurkan kampanye edukasi publik, serta meningkatkan kolaborasi dengan lembaga keuangan dan penyedia layanan telekomunikasi.

Seiring dengan terus berkembangnya AI generatif, pembayaran digital, dan media sosial, penipuan menjadi semakin meluas dan sulit dideteksi. Kini penipuan ini memengaruhi masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk anak muda, keluarga, lansia, bahkan mereka yang baru mulai menggunakan internet.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.