Trump mengatakan sasaran sektor energi belum menjadi prioritas, tetapi pada akhirnya juga akan diserang. “Saya akan menyimpan sasaran energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang fasilitas energi,” ujarnya.
Trump juga mengancam akan meningkatkan intensitas serangan mulai pekan depan dengan menyasar pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tetap menolak berunding.
“Malam ini kami akan menyerang mereka dengan sangat keras. Besok malam juga demikian. Malam berikutnya juga. Pekan depan keadaan akan menjadi jauh lebih buruk bagi mereka karena kami akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan mereka, kecuali mereka kembali ke meja perundingan,” katanya.
Trump mengaku yakin Iran tidak memiliki pilihan selain mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa pejabat kedua negara masih berkomunikasi hingga sekitar satu jam sebelum wawancara berlangsung.
“Mereka ingin membuat kesepakatan… Lebih baik mereka melakukannya. Jika tidak, tidak akan ada yang tersisa,” ujar Trump.
Mengenai Selat Hormuz, Trump mengatakan Amerika Serikat ingin jalur pelayaran tersebut tetap terbuka bagi lalu lintas internasional.
“Saya sempat ingin mengenakan biaya, tetapi mereka (negara-negara Teluk) lebih memilih membelanjakan lebih banyak uang di Amerika Serikat. Menurut saya itu lebih baik karena saya tidak menyukai gagasan mengenakan biaya. Selat itu harus tetap bebas,” katanya.
Tak gentar dengan ancaman dari Trump, Iran mengatakan pada Kamis bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat menerima syarat-syarat Teheran. Menurut kantor berita semi-resmi Mehr News, Juru Bicada Angkatan Darat Iran Mohammad Akrami-Nia mengatakan bahwa kendali atas selat itu harus berada di bawah otoritas Iran sebelum dapat dibuka kembali.
Ia mengatakan Washington harus mematuhi ketentuan dalam kesepakatan kerangka perdamaian bulan lalu, menghentikan apa yang disebutnya sebagai tindakan bermusuhan, dan menerima aturan Iran yang mengatur Selat Hormuz. Akrami-Nia menambahkan bahwa aksi militer AS yang terus berlanjut tidak akan memaksa Iran untuk membuka kembali jalur perairan tersebut.
Sebelumnya pada Senin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Teheran akan tetap menjadi “penjaga” Selat Hormuz, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan biaya pada pelayaran di jalur air strategis tersebut.
“Presiden AS benar sekali. Siapa pun yang menyediakan jalur aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz harus diberi kompensasi atas layanan ini,” kata Araghchi di akun X.



















































































































Komentar Terbaru