Pernyataan itu tidak secara khusus menyebut bahwa setiap orang yang menolak menu MBG berarti ingin mengakhiri hidupnya.
Pigai Tak Menutup Mata Jika MBG Bermasalah
Di sisi lain, Pigai juga menyampaikan bahwa pelaksanaan program pemenuhan kebutuhan dasar tetap harus diperbaiki apabila ditemukan persoalan.
“Kalau ada yang kurang, mari kita perbaiki. Korupsi, manajemennya jelek, ya mari kita perbaiki,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pigai tidak memosisikan MBG sebagai program yang bebas dari evaluasi.
Menurutnya, apabila terdapat persoalan dalam pelaksanaan program, pemerintah harus melakukan perbaikan agar tujuan pemenuhan hak masyarakat tetap tercapai.
Disampaikan Saat Resmikan Pusat Studi HAM di Mimika
Pernyataan mengenai MBG tersebut disampaikan Pigai dalam agenda peresmian Pusham STIH Mimika.
Kegiatan tersebut berlangsung di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Selasa (18/8/2026).
Dalam agenda itu, Pigai menyatakan pusat studi HAM tersebut diharapkan dapat menjadi mitra Kementerian HAM dalam menangani persoalan hukum dan HAM sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.
Dengan demikian, pernyataan Pigai mengenai MBG muncul dalam konteks pembahasan yang lebih luas mengenai pemenuhan hak dasar masyarakat.
Meski demikian, analogi tentang orang yang menolak makan dan penyebutan “malaikat juga makan” menjadi bagian yang paling banyak menarik perhatian karena menggunakan pernyataan yang tidak biasa dalam menjelaskan konsep hak atas pangan.































































































Beri Komentar