Berdasarkan penjelasan FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), wilayah barat Indonesia berada di bawah pengaruh langsung monsun barat. Arah angin monsun barat pertama kali mengenai wilayah barat Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan Barat, dan Jawa bagian barat.
Dengan demikian, hujan ekstrem cenderung terjadi lebih awal dan lebih sering di wilayah barat Indonesia dibandingkan wilayah timur. Selain itu, wilayah barat Indonesia lebih dekat dengan sumber uap air besar dunia, yakni Samudra Hindia bagian timur dan Indo-Pacific Warm Pool.
Samudra Hindia bagian timur merupakan salah satu wilayah laut yang relatif hangat. Ketika suhu permukaan laut meningkat, proses penguapan juga bertambah sehingga pembentukan hujan dapat lebih mudah terjadi.
Suhu permukaan laut Samudra Hindia, bersama fenomena seperti IOD negatif, marine heatwave, dan pemanasan regional, dapat meningkatkan curah hujan secara signifikan. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh Samudra Pasifik dan dapat mengalami kondisi yang lebih kering ketika El Nino berlangsung.
Gelombang konveksi tropis atau Madden-Julian Oscillation (MJO) juga kerap memulai fase basah dari wilayah Samudra Hindia bagian barat. Ketika MJO bergerak menuju Indonesia, Sumatera dan Jawa bagian barat dapat menerima dampaknya lebih awal.
Kondisi tersebut dapat mendorong pertumbuhan awan konvektif dengan cepat sehingga hujan ekstrem terjadi dalam skala regional maupun lokal.
Faktor lainnya adalah keberadaan pegunungan yang memaksa udara bergerak naik dan kerap menjadi lokasi konvergensi angin. Kondisi geografis tersebut dapat membuat suatu wilayah lebih rentan terhadap hujan lebat, termasuk akibat pengaruh sistem siklon tropis meskipun pusatnya berada ratusan kilometer dari wilayah Indonesia.
Efek El Nino dan La Nina
Berdasarkan buku Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang diterbitkan BMKG, nilai indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) secara bertahap meningkat selama beberapa bulan terakhir.
El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim global yang berasal dari wilayah Samudra Pasifik tropis dan merupakan bagian dari siklus ENSO. Kondisi ENSO dapat berada pada fase La Nina, kemudian beralih ke fase netral, dan selanjutnya berkembang menuju fase El Nino.
Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat serta kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di wilayah Samudra Hindia sekitar Indonesia dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan.
Hasil pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4, Samudra Pasifik, pada akhir Agustus 2026 menunjukkan nilai sebesar +2,83. Sementara itu, nilai indeks ENSO periode Juli–Agustus–September tercatat sebesar +2,63.






























































































Beri Komentar