Kondisi tersebut mengindikasikan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Sementara itu, di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus 2026 tercatat sebesar +0,376 dan berpeluang bergerak menuju fase positif hingga akhir tahun.
Sebagaimana dikutip dari laman Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan (BHLK) Kementerian Pekerjaan Umum, ENSO terjadi akibat perubahan suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Ketika El Nino terjadi, curah hujan di Indonesia cenderung menurun sehingga kondisi menjadi lebih kering.
Hal ini terjadi karena suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dibandingkan kondisi normal. Angin pasat melemah sehingga pembentukan awan dan hujan bergeser menjauhi Indonesia.
Sebaliknya, pembentukan awan meningkat ketika La Nina terjadi. Curah hujan di Indonesia cenderung lebih tinggi karena suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dibandingkan kondisi normal.
Angin pasat menjadi lebih kuat dan mendorong lebih banyak massa air hangat ke wilayah barat Pasifik, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut kemudian mendukung peningkatan pembentukan awan dan curah hujan di Indonesia.[]






























































































Beri Komentar