Konklusinya terlihat pada kajian Randall Collins (1979), mengenai Credential Society -masyarakat pemuja ijazah. Menurut Collins, seiring berjalannya waktu, sistem pendidikan dikooptasi menjadi sarana stratifikasi kelas. Sehingga, ijazah atau gelar akademik berubah fungsinya menjadi semacam mata uang sosial, sebagai akses menuju pekerjaan yang prestisius.
Konsekuensinya menjadi fatal: institusi pendidikan terdegradasi menjadi pabrik pencetak diploma belaka. Stempel kelulusan dan nilai IPK tinggi dipuja, tanpa mempertanyakan apakah terdapat struktur penalaran mendalam dan kritis dalam empati sosial.
Kini, di era disrupsi, tatkala mesin dan algoritma dapat melakukan pekerjaan klerikal jauh lebih cepat serta akurat daripada otak manusia, obsesi buta pada kredensial formal menjadi sangat berbahaya dan tak relevan. Perlu segera dilakukan pembenahan.
Siklus melelahkan perombakan administrasi kurikulum, perlu direorientasi menjadi upaya konkrit peningkatan kualitas individu peserta didik. Roh pendidikan perlu dikembalikan pada khitahnya: (i) memanusiakan manusia seutuhnya; (ii) memerdekakan kemandirian berpikir; dan mengubah ruang kelas menjadi laboratorium bermasyarakat.
Pendidikan harus mampu melahirkan generasi masa depan yang bukan sekadar pandai mencari kerja, melainkan menjadi insan merdeka yang tangguh memecahkan krisis peradaban. Semoga! rmol.id
(Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Indraprasta)































































































Beri Komentar