Setiap jawaban mempunyai akibat. Setiap keputusan dapat melahirkan persoalan baru. Karena itu, kerja intelektual tidak boleh berhenti ketika suatu pertanyaan berhasil dijawab.
Ia harus mampu memperhitungkan akibat dari jawabannya, mengantisipasi kemungkinan persoalan baru, dan memastikan bahwa penyelesaian hari ini tidak menjadi sumber kerusakan yang lebih besar pada masa mendatang.
Kegagalan intelektual suatu bangsa bukan hanya ketika ia tidak mampu menemukan jawaban atas persoalannya, tetapi juga ketika ia tidak mampu menjawab pertanyaan akibat jawabannya.
Setelah Suket Kesetaraan diploma Gibran dianggap MK tidak mencerminkan kesetaraan, apa konsekuensinya?
Jawaban untuk pertanyaan baru inilah yang kini menjadi masalah, yang jika toh nanti terjawab, akan muncul masalah lebih baru: siapa penggantinya?
Mungkin itulah pelajaran paling penting dari ijazah yang terus membawa masalah.
Bukan karena sebuah ijazah terlalu rumit untuk diperiksa. Melainkan karena bangsa ini belum selesai memikirkan apa yang harus dilakukan terhadap kebenaran setelah kebenaran itu ditemukan.
Dan selama jawaban hanya digunakan untuk membuka pintu berikutnya tanpa memahami apa yang menunggu di balik pintu tersebut, kita akan terus berjalan dari satu labirin menuju labirin yang lain.
Bangsa ini tidak akan pernah benar-benar keluar dari labirin persoalan. Hanya semakin jauh tersesat di dalamnya.
*(Inisiator Gerakan Menemukan Kembali Peradaban Bangsa)































































































Beri Komentar