Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah perselisihan mengenai pengecualian wajib militer bagi laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi.
Selama bertahun-tahun, banyak laki-laki dari komunitas tersebut memperoleh pengecualian untuk melanjutkan pendidikan agama. Namun, kebijakan itu semakin dipersoalkan ketika pasukan cadangan Israel terus dimobilisasi untuk menjalankan operasi militer di berbagai front.
Bagi sebagian tentara cadangan dan keluarga mereka, persoalannya adalah ketimpangan pembagian beban. Sebagian warga harus berulang kali meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk bertugas, sementara kelompok lain tidak diwajibkan menjalani dinas militer.
Di sisi lain, pemimpin komunitas ultra-Ortodoks berpendapat bahwa dinas militer dapat mengganggu kehidupan keagamaan dan kewajiban mempelajari Taurat.
Perselisihan tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan politik di Israel, terutama ketika kebutuhan personel militer meningkat setelah perang berkepanjangan.
Netanyahu dan Ketidakpastian Politik
Situasi tersebut berlangsung menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026. Persaingan politik semakin rumit karena blok pendukung Netanyahu maupun kelompok penentangnya menghadapi kesulitan untuk memastikan dukungan mayoritas di parlemen.
Laporan yang diberitakan Palestine Chronicle juga menyoroti upaya Netanyahu mempertahankan kekuasaan di tengah perselisihan mengenai kebijakan pemerintah dan arah perang.
Ketidakstabilan politik itu berpotensi memperburuk perpecahan yang sudah ada. Namun, penentangan terhadap Netanyahu tidak serta-merta berarti penolakan terhadap operasi militer Israel di Gaza atau kebijakan negara tersebut terhadap Palestina.
Sebagian oposisi justru berfokus pada kegagalan keamanan, penanganan perang, dan kebijakan domestik pemerintah.
Karena itu, persoalan yang dihadapi Israel bukan hanya persaingan antara pemerintah dan oposisi, melainkan juga pertentangan mengenai pembagian beban perang, arah kebijakan negara, serta masa depan kepemimpinan politiknya.
Selain persoalan politik dan militer, laporan tersebut disebut mengidentifikasi tekanan ekonomi sebagai faktor yang dapat memperbesar ketidakstabilan.
Meningkatnya pengeluaran pertahanan dan dampak perang terhadap kehidupan sehari-hari berpotensi membebani rumah tangga Israel. Palestine Chronicle, dengan mengutip Drop Site News, menyebut harga pangan, termasuk buah dan sayuran segar, meningkat 9,5 persen dalam dua tahun terakhir.
Di tingkat internasional, memburuknya citra Israel dan melemahnya dukungan terhadap negara itu di sebagian kalangan masyarakat Amerika Serikat juga disebut menjadi perhatian.



































































































Komentar Terbaru