UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONAL

Aktivis 98 Bikin Puisi Desak Fadli Zon Mundur: Menteri Sontoloyo!

BANDA ACEH –  Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuai kecaman buntut pernyataannya soal pemerkosaan massal pada Mei 1998. Kali ini, politisi Gerindra itu diultimatum Aktivis 98 agar meminta maaf secara terbuka karena melukai para penyintas 1998.

Tak tanggung-tanggung, Fadli Zon disebut menteri `sontoloyo` lewat puisi yang dibuat para aktivis. Salah seorang aktivis 98, Jimmy Fajar alias Jimbong memberikan ultimatum keras kepada Menbud Fadli Zon.  

Kritik Jimbong untuk Fadli tak main-main, ia siap menggeruduk kantor Kementerian Kebudayaan apabila Menbud tak mengindahkan hal ini. 

Aksi Kaninus 16

“Dan apabila Fadli Zon tidak meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, kami akan geruduk, kami akan kepung Kementerian Kebudayaan sebagai bahwa dia harus bertanggung jawab terhadap perjanjiannya dia,” kata Jimbong belum lama ini.

Bukan hanya itu saja, Jimbong juga menciptakan puisi dengan judul menteri sontoloyo.

Berikut petikan puisinya:

MENTERI SONTOLOYO !

Kau bilang tidak ada pemerkosaan massal

Padahal data dan fakta terungkap jelas

Menteri Sontoloyo!

Kau bilang rumor dan minta bukti fakta

Menteri Sontoloyo!

Kau ingin menghapus fakta sejarah bangsa

Menteri Sontoloyo!

Kau melukai hati para korban tragedi Mei 98 

Menteri Sontoloyo! 

Kau adalah anggota MPR utusan golongan pemuda dari rezim orde baru ditahun 98

Menteri Sontoloyo!

Pecat Fadli Zon 

Menteri Sontoloyo !!!

Dikecam Aliansi Organ 98

Sebelumnya, Aliansi Organ 98 mengecam pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut tragedi perkosaan massal Mei 1998 hanya sebatas rumor. 

Aktivis 98 Mustar Bona Ventura menyatakan kekecewaan mendalam atas pernyataan Fadli Zon terkait tragedi Mei 1998 yang tak berdasar.

Mustar mengecam keras pernyataan Fadli Zon yang meragukan kebenaran kasus pemerkosaan massal saat kerusuhan Mei 1998.

“Ini kejahatan yang sangat luar biasa yang disampaikan oleh seorang menteri, menteri kebudayaan yang asal ngomong, asal jeplak asal bicara tanpa dasar,” kata Mustar dalam konferensi pers yang digelar di Graha Pena 98, Jakarta, Rabu 18 Juni 2025. 

Mustar menyebut bahwa kasus pemerkosaan pada 1998 benar terjadi dan telah didokumentasikan dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Fakta-fakta itu kemudian menjadi dasar pembentukan Komnas Perempuan.

“Pemerkosaan terhadap kaum perempuan 1998 itu benar terjadi, itu benar terjadi, dan betul-betul ada peristiwanya,” ujarnya.

Mustar menyayangkan ucapan Fadli Zon yang dinilai memperparah luka korban. Terlebih, belum ada penuntasan kasus yang telah berpuluh tahun berlalu. 

“Kalau negara tidak mampu menangkap pelaku atau menjelaskan siapa yang bertanggung jawab, jangan malah membuat luka itu semakin pedih,” tambahnya.

image_print
1 2 3
Stories
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.