UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALTIMUR TENGAH

Tantang AS dan Israel, Iran Klaim Simpan Arsenal Rudal Tercanggih untuk Perang Enam Bulan

TEHERAN – Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC), Ali-Mohammad Naeini, menyatakan kesiapan militer Teheran untuk menghadapi perang skala penuh berintensitas tinggi dalam jangka waktu panjang.

Dalam pernyataan resminya, Naeini menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki kapasitas untuk bertahan dan menyerang dalam skenario perang total hingga sedikitnya enam bulan ke depan.

Naeini mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai arsenal militer yang digunakan Iran dalam beberapa operasi terakhir.

Menurutnya, rudal-rudal yang telah diluncurkan sejauh ini sebagian besar merupakan generasi lama yang diproduksi pada periode 2012 hingga 2013.

“Iran bahkan belum menggunakan rudal-rudal yang diproduksi dalam satu dekade terakhir. Kemampuan militer kami saat ini masih jauh dari batas maksimal,” tegas Naeini.

Ia menambahkan bahwa produksi rudal Iran telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan kapasitas produksi massal yang siap dikerahkan kapan saja.

Peringatan Ali Larijani Terhadap Kebijakan Donald Trump

Di sisi lain, Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, melontarkan tuduhan keras terhadap strategi luar negeri pemerintahan Donald Trump.

Larijani menilai Amerika Serikat berusaha mereplikasi skenario intervensi di Venezuela untuk menggulingkan kepemimpinan sah dan menguasai sumber daya Iran.

“Mereka (AS) mengira akan mudah menyerang, mengambil alih, dan mengakhiri segalanya. Kini, mereka justru terperangkap dalam kalkulasi mereka sendiri,” ujar Larijani dalam pernyataan yang dikutip pada Senin (9/3/2026).

Eksistensi Negara Menjadi Pertaruhan

Menurut Larijani, target utama dari koalisi Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar pergantian rezim (regime change), melainkan upaya sistematis untuk penghancuran dan disintegrasi total kedaulatan Iran.

Ia memperingatkan bahwa sejarah campur tangan AS di Irak dan Afghanistan telah membuktikan bahwa intervensi Washington hanya demi kepentingan hegemonik, bukan untuk kesejahteraan rakyat setempat.

“Bagi Israel, perubahan kecil di Iran tidak ada artinya. Tujuan akhir yang mereka inginkan adalah melihat negara ini hancur berkeping-keping,” tegas Larijani, menekankan bahwa persatuan nasional menjadi kunci bagi Iran untuk menghadapi upaya disintegrasi tersebut.

Pernyataan dari kedua petinggi keamanan Iran ini mengirimkan sinyal kuat ke panggung diplomasi global bahwa Teheran telah bersiap menghadapi skenario terburuk di tengah meningkatnya kehadiran militer AS dan serangan udara Israel di kawasan tersebut.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
Story Terbaru
Tidak dapat memuat data story terbaru.
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.