Untuk semua itu, Komnas HAM harus terlebih dahulu mengumpulkan bahan dan data informasi yang kuat. “Tapi kita kumpulkan semua ini barang-barang bukti, informasi baru kami masuk ke titik yang menurut kami krusial, tanpa didukung oleh data informasi yang kuat, kami akan sulit untuk membuka masalah ini,”pungkasnya..
Pada sesi pertama, Choirul Anam mengaku Komnas HAM lebih ke pertanyaan terbuka dengan jawaban yang deskriptif dan hasil jawaban dari para ajudan itu nantinya akan dimunculkan di laporan akhir.
Tak hanya menanyakan konteks waktu dari masing-masing keterangan dari ajudan yang dicocokkan dengan informasi yang mencuat ke publik, lebih dari itu menanyakan hubungan masing-masing ADC dan kepada para atasannya yakni Irjen Ferdy Sambo dan Putri Ferdy Sambo. “Yang berikutnya yang penting yang juga ingin kami sampaikan adalah kami juga menanyakan soal bagaimana sekuen hubungan ADC satu dengan yang lain, termasuk juga karakter masing-masing ADC.
kami tanya di masing-masing orang itu, kami tanya pertanyaan yang sama, pertanyaan sama ini untuk melihat sebenarnya, apa sebenarnya yang terjadi dan background apa yang terjadi di sekuen itu, jadi misalnya ADC A kami tanya bagaimana soal apa perilaku kehidupan sehari-hari ADC yang lain, itu kami tanya semuanya,”jelasnya. Kasus aksi baku tembak antar polisi, dimana atas insiden itu menewaskan Brigadir J ditangan rekan kerjanya yakni Bharada E.
Dimana saat dikembalikan jenazah Brigpol Nofryansyah Yosua Hutabarat kepada keluarga, membuat stres keluarga karena melihat kondisi jasah dengan sejumlah luka tak wajar di sekujur tubuh sang anak. Kematian Brigadir J pun dianggap janggal oleh pihak keluarga dengan bantuan kuasa hukumnya bernama Kamaruddin Simanjuntak melaporkan hal ini Bareksrim Polri atas dugaan pembunuhan berencana.































































































Beri Komentar