Terkait hal ini, Kementerian Kesehatan mengatakan perilaku bunuh diri (ide, rencana dan tindakan bunuh diri) dikaitkan dengan berbagai gangguan jiwa lainnya, seperti depresi. Ketika seseorang mengalami depresi maka tentu akan mengubah berbagai hal baik dari gangguan pola makan, perilaku sosial bahkan jadwal tidur pun menjadi tidak teratur. Pada stadium yang lebih berat, depresi dapat menyebabkan frustasi hingga berpikir untuk menyakiti diri bahkan membunuh dirinya sendiri.
Terdapat banyak teori yang membahas tentang bunuh diri, diantaranya yang terbaik adalah apa yang disimpulkan oleh Durkheim. Durkheim melakukan riset sosial yang didirikan di atas dasar-dasar teoritis yang jelas. Pada awalnya, bunuh diri tampak sebagai tindakan pribadi yang dapat dijelaskan menggunakan istilah-istilah psikologi. Namun Durkheim menemukan bahwa angka bunuh diri berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Bahkan angka bunuh diri ini bisa berbeda dalam satu masyarakat seiring dengan perubahan waktu.
Menurut Durkheim, bunuh diri tergolong dalam fenomena sosial yang hanya dapat diurai melalui faktor-faktor sosial yang melatarbelakanginya. Ini berarti faktor-faktor pokok yang menyebabkan bunuh diri tidak bersumber dari kejiwaan seseorang atau kondisi alam yang melingkupinya, tapi lebih merupakan hasil dari perbedaan-perbedaan dalam struktur masyarakat dan tingkat solidaritas masyarakat. Durkheim merumuskan bahwa jika ikatan agama, keluarga, dan politik menguat maka angka bunuh diri akan menjadi kecil. Namun jika semua itu melemah, maka angka bunuh diri akan menjadi besar (Sulaiman al Husin, 2005).
Jika kita perhatikan dengan seksama, melalui penerapan sistem Kapitalisme saat ini, kiranya fenomena bunuh diri terus tumbuh dari waktu ke waktu. Pada prinsibnya Kapitalisme ini adalah sebuah sistem kehidupan yang tidak memberi ruang bagi agama untuk mengikat masyarakat dalam sebuah pengaturan kehidupan. Hal ini karena Kapitalisme tegak di atas asas sekulerisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Wajar kiranya jika jiwa-jiwa manusia yang hidup di dalamnya menjadi kering hingga mudah putus asa dan menyerah pada keadaan.
Selain itu, Kapitalisme adalah cara pandang yang menempatkan kebebasan sebagai sarana untuk mencapai tujuan kehidupan yaitu meraih materi sebanyak-banyaknya untuk memperoleh kebahagiaan jasadiyah. Dengan prinsip kebebasan itu mereka beranggapan kehidupan ini mutlak milik manusia sehingga manusia bebas untuk memilih menikmati hidup atau mengakhirinya dengan bunuh diri. Parahnya prinsip ini membentuk pemahaman bahwa bunuh diri ini juga bagian dari hak asasi mereka.






























































































Beri Komentar