Prabowo itu ternyata masih anak keturunan Sultan Agung yang ke-11 dari jalur perempuan. Bila dirunut, Prabowo bin Soemitro Djojohadikoesoemo bin Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo bin Tumenggung Mangkuprojo yang menikah dengan Raden Ajeng Djojo Atmojo binti Tumenggung Djojohadiningrat bin Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat bin Sri Sultan Hamengkubuwono II bin Sri Sultan Hamengkubuwono I bin Prabu Amangkurat IV bin Susuhunan Pakubuwono I bin Susuhunan Prabu Amangkurat Agung bin Sultan Agung.
Dari silsilah di atas menunjukkan, bahwa memang darah Sultan ada dalam tubuh Prabowo. Ia punya tali persaudaraan dengan raja-raja di Kesultanan Islam Mataram. Suatu kerajaan yang tetap eksis sampai sekarang dan oleh pemerintah ditetapkan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sultan Agung merupakan kakek buyut ke-11 Prabowo dari jalur perempuan. Seorang Raja Jawa Islam yang berani dua kali menyerang Batavia di bawah kekuasaan kerajaan Hindia. Yaitu serangan pada 1628 yang dipimpin Dipati Ukur dan serangan pada 1629 yang dipimpin Adipati Juminah.
Ada 14 ribu pasukan yang digerakkan untuk mengusir penjajah Belanda dan memperkuat pengaruh Kesultanan Mataram di ujung Barat Jawa. Sayang, pasukan Mataram terlalu lemah karena kekurangan logistik dan merebaknya wabah penyakit malaria dan kolera.
Namun, para laskar Mataram berhasil mencemari Sungai Ciliwung yang menyebabkan wabah penyakit kolera di Batavia merebak. Gubernur Jenderal Belanda JP Coen meninggal dunia lantaran wabah penyakit ini.
Sekelumit peristiwa heroik dari leluhur Prabowo tersebut di atas, untuk memotret peran dan kiprahnya dalam landscape politik dan militer Indonesia pascakontemporer. Di mana, ia meneruskan perjuangan para Raja Mataram dalam memimpin negeri.
Wahyu keprabon Prabowo bukan diperoleh melalui sistem monarki yang turun temurun, akan tetapi harus berjuang keras melalui pemilu demokratis dalam sistem Republik. Capaian karier kepemimpinannya melampaui para leluhur sedari Sultan Agung sampai sekarang.
Mengapa demikian, Indonesia yang dipimpin Prabowo dari segi geografis dan demografis lebih luas dan lebih besar. Beda halnya dengan wilayah Kesultanan Islam Mataram yang menguasai sebagian Pulau Jawa dan jumlah penduduk yang belum sebesar sekarang yang sudah tembus 287 juta jiwa.
Apakah Prabowo bisa menjadi legenda layaknya para leluhurnya? Seperti Sultan Agung yang gagah berani mewariskan nilai patriotisme dan kepahlawanan? Sukses memboyong istana dari Kuta Gede ke lokasi sekarang? Berhasil melanjutkan pemindahan Ibu Kota Negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN)? Dan seterusnya.
















































































































