UPDATE

OPINI
OPINI

Prabowo Sang Revolusioner, Habis Gelap, Terbitlah Terang

Dalam pendekatan analisis berbasis material, kaum strukturalis mampu menjelaskan bahwa kebijakan Prabowo ini bukan saja berpihak pada rakyat miskin, tapi lebih jauh lagi menyatakan perang pada kaum oligarki. Sebaliknya kaum humanis dan cengeng, selalu berlindung pada isu-isu kebebasan yang manipulatif.

Selanjutnya, soal adanya kaum kontra revolusioner. Dalam sejarah perjuangan struktural, seperti yang dilakukan Prabowo, tentu banyak pihak yang terganggu kepentingannya. Ketika Prabowo mengkonsolidasikan aset negara republik ini, melalui Danantara, maka negara mampu menguasai dan mendominasi pasar keuangan ke depan. Dengan memutar Rp. 200-300 T uang hasil efisiensi, Prabowo dapat mengkapitalisasi Danantara sekitar Rp 1200-1500 T. Uang ini dapat digunakan membangun proyek-proyek besar tanpa tergantung pada swasta dan asing.

Makan bergizi gratis dan Danantara adalah  sebuah pelaksanaan “Ideological State Apparatuses”, di mana Prabowo perlu mencengkram semua rencananya ditangan negara, setidaknya secara mayoritas. Jika ini berhasil, maka kekuatan dan kekuasaan oligarki rakus yang selama ini berkembang pesat, akan tunduk pada negara.

Oligarki rakus tentu marah pada Prabowo. Sebagimana pandangan Professor Jeffrey Winter, ekonom ahli Oligarki Amerika, oligarki mempunyai “Defence industry” untuk mempertahankan diri. Mereka mempunyai kekuatan lawyer, intelektual, jaringan massa, jaringan preman, tokoh agama, kampus, dll yang akan membela mereka. Dengan kekuatan ini mereka pasti akan perang terhadap Prabowo.

Oligarki rakus ini adalah salah satu kelompok kontra revolusioner. Mereka tidak mau berubah. Mereka terus menerus ingin mengendalikan republik. Namun, disamping kaum oligarki, banyak lagi kelompok – kelompok kepentingan yang akan membenci Prabowo Subianto. Baik dari kalangan luar rezim, maupun dari dalam. Untuk kekuatan dari dalam ini, tentu terjadi karena Prabowo ternyata tidak sesuai harapan mereka semula maupun karena mereka kehilangan zona nyaman untuk korupsi.

Hal terakhir yang jadi persoalan adalah belum adanya “barisan ideologis” Prabowo. Kebijakan Prabowo selama ini belum mampu diterjemahkan kepada masyarakat secara tepat.

Barisan ideologis diperlukan untuk memperkuat penerimaan pikiran dan mimpi Prabowo dikalangan cendikiawan, mahasiswa dan kelas menengah lainnya. Althusser misalnya membagi dua, antara Reppresive State Apparatuses dan Ideological State Apparatuses. Prabowo harus memperkuat kedua unsur state itu agar mampu menjadi barisan ideologis.

Mahasiswa misalnya, perlu diajak dialog berbasis ilmu dan fakta. Sebagaimana kata filsup Rocky Gerung ketika di daulat mahasiswa demo untuk berbicara di Samarinda dua hari lalu, Rocky mengatakan mengkritiklah mahasiswa dengan berbasis sains. Artinya, barisan ideologis Prabowo menjelaskan secara keilmuan di kampus-kampus, bagaimana revolusionernya berbagai kebijakan Prabowo dan kenapa beberapa hal soal Jokowi dapat dijelaskan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.