Pada tahun 1920, dia memboyong keluarganya pindah ke Palestina, negara yang di kemudian hari dijajah dan warganya dibunuhi untuk kemudian dicaplok menjadi Israel. Kelak nama Nathan yang selama ini menjadi identitasnya diubah menjadi Netanyahu, bahasa Ibrani dari kata Nathan.
Di tempat barunya, Nathan membesarkan Ben Zion, sang anak. Setelah berpindah-pindah antara Jaffa, Tel Aviv, dan Safed, keluarga tersebut akhirnya menetap di Yerusalem, tempat Ben Zion mendaftar di David Yellin Teachers’ College dan Universitas Ibrani Yerusalem.
Pada tahun 1944, Ben-Zion menikahi Tzila Segal. Pernikahan ini melahirkan Benjamin Netanyahu dan Jonathan Netanyahu.
Pemikiran ekstrem Ben Zion
Penulis al Jazeera Muhammad Shaaban Ayoub menjelaskan, saat belajar di Universitas Ibrani Yerusalem, Ben Zion terlibat dalam gerakan Zionis ekstrem, sebuah gerakan yang memisahkan diri dari Zionisme arus utama. Kelompok ini meyakini bahwa arus utama lebih bersifat mendamaikan terhadap otoritas Inggris yang saat itu memerintah Palestina.
Pada saat itu, gerakan zionis mendapatkan banyak serangan dari berbagai pihak yang mengecam mereka karena tidak setuju dengan manuver mereka mencaplok Palestina. Elite Israel ketika itu dinilai masih mendengar suara-suara dunia untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Ben Zion dalam pergerakannya dipengaruhi ekstremis Zeev Jabotinsky. Ben Zion bekerja sebagai jurnalis, seperti inisiator zionisme Theodore Herzl. Melalui tulisannya, Ben Zion menekankan keharusan mendirikan Israel.
Bahkan dalam berbagai pembicaraan, ayah Netanyahu menilai bangsa Arab sebagai hambatan utama yang harus diterobos untuk mewujudkan Israel Raya.
Mengapa disebut hambatan utama? Bagi Ben Zion. Bangsa Arab di berbagai kawasan pasti tidak akan rela tanahnya diambil Israel. Maka tidak perlu lagi mengasihani mereka.
Dari media massa, Ben Zion mencoba memperkuat pengaruh dalam Politik zionis, tapi tidak berhasil. Karena kala itu Israel didominasi gerakan zionis tradisional. Tak patah arang, Ben Zion menekuni bidang akademik. Dengan memanfaatkan kampus dan kedok akademisi, Ben Zion menyuarakan nafsu rasialisme dan hegemoni zionisme dalam berbagai kuliah di Amerika dan Eropa.
Orang dengan pemikiran semacam itulah yang kemudian mempengaruhi Benjamin Netanyahu. Tak ada kompromi terhadap Arab, tak ada rasa kasihan, tegak lurus wujudkan Israel Raya. Begitulah yang menjadi pedoman Netanyahu dalam memimpin Israel saat ini.
Ambisi yang diwujudkan dengan menabrak segala nilai dan aturan itu membuat Netanyahu berada dalam posisi yang serba dimusuhi. Eropa dan Asia mengecam si pedana menteri. Bahkan Pengadilan Internasional menetapkan Netanyahu dan Yoav Gallant yang pernah menjadi menteri pertahanan, sebagai orang yang paling bertanggungjawab terhadap segala krisis kemanusiaan di Gaza. Mulai dari biang kerok kelaparan di sana hingga upaya terencana membersihkan etnis Palestina dengan mengusir mereka ke negara lain.

















































































































