BANDA ACEH – Ketika invasi skala penuh Rusia ke Ukraina tak kunjung berakhir, Moskow dilaporkan tengah mempersiapkan perang melawan NATO.
Rusia memperluas kehadiran pasukannya di sepanjang perbatasannya dengan blok Barat, meningkatkan pengeluaran militernya dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta mengintensifkan operasi rahasia melawan Barat.
NATO harus mengharapkan hal yang tak terduga dan bersiap menghadapi serangan Rusia, kata Laksamana Belanda Rob Bauer, kepala komite militer NATO, di Brussels, Belgia, Januari lalu.
Sementara itu, pejabat intelijen dan militer telah memperingatkan dalam beberapa minggu terakhir bahwa negara-negara anggota NATO harus siap menghadapi potensi konflik dengan Rusia.
Mengutip laporan Newsweek, Senin (5/5/2024), setidaknya ada empat tanda Rusia diduga sedang mempersiapkan perang melawan NATO.
1. Gerak-gerik Militer Rusia
Rusia telah memperluas kehadiran militernya di sepanjang perbatasannya dengan Finlandia dan Norwegia sebagai persiapan menghadapi potensi pertikaian dengan aliansi Barat tersebut, menurut laporan Wall Street Journal.
Kremlin berencana untuk mendirikan markas besar tentara baru di kota Petrozavodsk, Rusia, sekitar 100 mil di sebelah timur perbatasan Finlandia, yang akan mengawasi puluhan ribu tentara selama beberapa tahun ke depan.
Banyak dari pasukan ini akan dikerahkan ke daerah tersebut setelah perang Ukraina berakhir. Pada saat yang sama, Rusia meningkatkan perekrutan militer dan mempercepat produksi senjata.
Pakar militer Rusia mengatakan kepada surat kabar itu bahwa pembangunan di sepanjang perbatasan Finlandia kemungkinan merupakan bagian dari persiapan Presiden Rusia Vladimir Putin yang lebih luas untuk kemungkinan konflik dengan NATO.
“Ketika pasukan kembali [dari Ukraina], mereka akan melihat ke seberang perbatasan ke negara yang mereka anggap sebagai musuh,” kata Ruslan Pukhov, direktur Center for the Analysis of Strategies and Technologies, sebuah lembaga think tank pertahanan yang berbasis di Moskow.
“Logika dekade terakhir menunjukkan bahwa kita mengharapkan beberapa konflik dengan NATO,” ujarnya.
Ada indikasi bahwa Rusia mulai menahan peralatan yang baru diproduksi untuk dikerahkan ke Ukraina, dan malah merelokasi beberapa personel ke wilayah lain, termasuk Baltik dan Nordik, imbuh Edward Arnold, peneliti senior di lembaga think tank Royal United Services Institute (RUSI), kepada Newsweek.
“Namun, aktivitas ini jauh dari sekadar peningkatan,” kata Arnold. “Banyak unit yang biasanya ditempatkan di utara menjadi tidak efektif dalam pertempuran saat bertempur di Ukraina, jadi aktivitas Rusia ini menyeimbangkan kembali dan merekapitalisasi pasukan yang hilang. Oleh karena itu, ini menunjukkan bahwa Rusia sudah mulai melihat ‘di luar Ukraina’,” paparnya.
2. Peringatan Intelijen Jerman, Lithuania, dan Denmark
Komunitas intelijen Jerman telah membunyikan peringatan bahwa ambisi Rusia melampaui Ukraina. Sebuah laporan oleh Badan Intelijen Federal Jerman (BND) pada bulan Maret memperingatkan bahwa Putin sedang mempersiapkan konflik dengan NATO.


















































































































Komentar Terbaru