UPDATE

OPINI
OPINI

Bayang-Bayang Pendidikan Seksual di Aceh

Budaya tabu ini juga memperburuk kondisi korban kekerasan seksual. Dalam berbagai kasus, yang disalahkan selalu korban. Pakaian korban, waktu ia keluar rumah, atau kebiasaan sosialnya dijadikan alasan pembenar atas tindakan pelaku. Tidak ada yang bertanya: “Apakah kamu tahu cara melindungi diri?”, “Apakah kamu tahu apa itu kekerasan seksual?”, “Kamu tahu nggak, kalau itu bukan salah kamu?” Semua pertanyaan yang bisa menyelamatkan korban sering kali hilang dalam kabut penghakiman sosial. Di sisi lain, pelaku sering kali berlindung di balik identitas sosial—tokoh agama, guru, atau orang terpandang—yang ironisnya justru memanfaatkan kebodohan struktural ini untuk melanggengkan perilaku bejat mereka.

Hal lain yang mengkhawatirkan adalah bagaimana persepsi terhadap perempuan dibentuk sejak kecil dalam ruang-ruang publik Aceh. Ketika pendidikan seksual tidak diberikan sejak dini, anak laki-laki tumbuh dengan pemahaman yang keliru tentang perempuan dan relasi antar gender. Mereka belajar dari film porno, obrolan jorok antar teman, atau media sosial yang miskin etika. Hasilnya adalah generasi muda yang mudah melakukan catcalling, menyamakan perempuan sebagai objek seksual, serta merasa dominan dalam relasi sosial. Di sinilah pendidikan seksual menjadi sangat penting, bukan untuk mengajarkan seks bebas, tetapi untuk membentuk rasa hormat terhadap sesama manusia.

Perempuan dalam situasi ini terperangkap dalam dua jebakan. Di satu sisi, mereka dibatasi ruang geraknya karena takut menjadi sasaran komentar atau kekerasan seksual. Di sisi lain, ketika mereka mencoba mengekspresikan diri, mereka langsung dikritik dan distigma. Akibatnya, kesetaraan gender sulit terwujud karena relasi antara laki-laki dan perempuan sudah timpang sejak dari bangku sekolah. Pendidikan seksual sejak dini bisa menjadi jalan tengah untuk memperbaiki situasi ini. Dengan memahami tubuhnya, anak perempuan belajar untuk percaya diri dan tahu kapan harus berkata “tidak.” Anak laki-laki pun akan memahami pentingnya persetujuan dan batasan personal dalam berinteraksi.

Penolakan terhadap pendidikan seksual sering kali dibungkus oleh alasan religiusitas. Tapi kita lupa, bahwa Islam sendiri tidak anti terhadap pembicaraan tentang tubuh dan seksualitas. Kitab-kitab fiqih klasik, dari Al-Umm karya Imam Syafi’i hingga Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, secara jelas dan detail membahas menstruasi, hubungan intim, janabah, hingga tanggung jawab suami istri. Nabi Muhammad sendiri menjawab berbagai pertanyaan sahabat tentang hubungan seksual dengan bahasa yang lembut, jujur, dan mendidik. Artinya, agama tidak pernah menjadi musuh pengetahuan. Yang menjadi masalah adalah ketika tafsir keagamaan yang dipilih lebih fokus pada penghukuman, bukan pendidikan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.