Keduanya berharap Jejak Hati Anak Aceh dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang menyentuh lebih banyak anak di berbagai wilayah Aceh, sekaligus menginspirasi lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan emosional anak.
Apresiasi pun datang dari pihak panti. Yuli Fitriah, Ketua Panti Asuhan Bumi Moroo, mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini jarang mereka temui.
“Anak-anak terlihat sangat antusias dan merasa dihargai. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Ibu Indo, salah satu pengurus, yang merasa kegiatan ini telah membuka ruang baru untuk anak-anak mengenal perasaan mereka sendiri dengan cara yang sehat.
Respons positif juga datang langsung dari anak-anak. Rahul, siswa kelas 4 SD, dengan mata berbinar mengatakan, “Senang sekali! Tadi nulis apa yang saya takutkan, dan ternyata saya bisa cerita juga hal yang buat saya bahagia.”
Sementara Gebi, siswi kelas 3 SMP, mengaku senang karena baru pertama kali merasa boleh bercerita tentang isi hati.
“Biasanya disuruh diam, tapi di sini malah disuruh jujur tentang perasaan sendiri. Rasanya lega,” katanya.
Husnul Khatimah, fasilitator dan panitia, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberi pengalaman berharga, tidak hanya bagi anak-anak tapi juga bagi relawan.
“Kami juga belajar untuk lebih sabar, lebih mendengar, dan menyadari bahwa setiap anak membawa cerita unik yang layak dihormati.”
Karena itu, Jejak Hati Anak Aceh bukan sekadar kegiatan sosial. Ia adalah pesan, bahwa sekecil apa pun suara anak-anak, mereka layak untuk didengar. Dan dari mendengar itulah, perubahan besar bisa bermula.



































































































Beri Komentar