UPDATE

KOMUNITAS

Jejak Hati Anak Aceh: Sahabat Andhikara Hadirkan Ruang Refleksi di Panti Bumi Moro

JANTHO – Sahabat Andhikara kembali hadir dengan semangat cinta dan kepedulian terhadap suara-suara kecil yang sering tak terdengar: suara hati anak-anak.

Lewat kegiatan bertajuk Jejak Hati Anak Aceh, komunitas ini membuka ruang aman bagi anak-anak di Panti Asuhan Bumi Moroo untuk mengenal, mengungkap, dan menyampaikan emosi mereka – sesuatu yang selama ini mungkin tersimpan begitu dalam.

Kegiatan ini bukan sekadar sesi menggambar dan menulis. Ini adalah momen reflektif dan pembelajaran emosional, dikemas dalam pendekatan yang menyenangkan, penuh empati, dan memberdayakan.

Anak-anak diajak untuk mengekspresikan perasaan melalui cerita bergambar, tulisan tangan, dan peta emosi, sebuah media ekspresi visual yang akan dikompilasi menjadi karya kolektif berjudul Peta Emosi Anak Aceh. Publikasi ini nantinya akan menjadi suara mereka—yang akan berbicara pada masyarakat, pembuat kebijakan, dan semua yang peduli pada masa depan anak-anak.

Salah satu sesi paling mengesankan datang dari kegiatan storytelling interaktif berjudul Balon Merah Rara dan Hari Ceria. Dalam cerita ini, anak-anak menyaksikan bagaimana karakter Tito yang marah karena balonnya meletus, mampu kembali tersenyum karena dukungan dan kesabaran teman-temannya.

Sebuah kisah sederhana, namun mengajarkan nilai besar: bahwa di mana pun kita berada, kita harus tetap tenang dan sabar. Karena dari kesabaran, akan lahir kebaikan yang mempertemukan kita dengan hal-hal indah yang tak terduga.

Nilai moral ini diperdalam dengan penyampaian hadist oleh Nurul Azizah Awina, salah satu fasilitator, yang mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:

“Lā taghdab wa laka al-jannah” – Jangan marah, bagimu surga.

Sebuah pesan abadi yang menunjukkan bahwa mengelola emosi, khususnya amarah, adalah jalan menuju kebaikan, bahkan surga.

Kegiatan ini juga diisi dengan pemaparan materi fungsi peta emosi oleh Nurul Isnina Dharma dan teknik praktis seperti butterfly hug yang merupakan pelukan diri sederhana yang membantu anak-anak menenangkan diri saat diliputi emosi.

Mereka juga menuliskan dan menggambarkan perasaan seperti senang, marah, takut, dan sedih, lalu membagikannya dengan teman-teman. Dari jawaban-jawaban polos dan jujur, tampak bahwa anak-anak mulai memahami bahwa mengenali dan menyampaikan emosi adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan.

Miftah Mardhatillah dan Nurul Isnina Dharma, perwakilan Sahabat Andhikara, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan akan terbatasnya ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan isi hatinya.

“Anak-anak punya banyak cerita yang tersimpan. Kita hanya perlu berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan,” ujar Miftah.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.