UPDATE

OPINI
OPINI

Taktik Licik Kapitalisme Mengunci Nasib Buruh

Oleh: Hadi Irfandi 1

KAPITALISME memprioritaskan peningkatan pendapatan jauh lebih tinggi daripada keselamatan manusia. Hal ini kembali terlihat secara nyata pada kondisi buruh perempuan di pabrik sarden Muncar. Di tengah narasi pertumbuhan industri perikanan dan murahnya produk konsumsi, terdapat praktik kerja yang telah lama sewenang-wenang.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Fakta-fakta yang muncul menunjukkan bahwa masalah ini bukan peristiwa sesaat, melainkan namun benang merah dari sistem yang membiarkan ketimpangan berlangsung dalam jangka panjang.

Di pabrik sarden di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, buruh perempuan bekerja selama 10 hingga 13 jam per hari dengan upah di bawah UMK. Kondisi kerja jauh dari standar keselamatan: lantai pabrik kerap basah dan berminyak, sehingga kecelakaan seperti terpeleset, keseleo, hingga patah tulang terjadi berulang dan nyaris dianggap hal biasa. Alat Pelindung Diri tidak memadai, bahkan terdapat kasus jari terputus akibat tangan ikut terpotong saat memotong ikan dalam kondisi kelelahan dan mati rasa.

Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa banyak buruh tidak terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan, meskipun telah bekerja bertahun-tahun. Ironisnya, mayoritas pekerja adalah perempuan berusia 45 hingga 75 tahun. Kondisi ini berlangsung puluhan tahun di pabrik yang sama, dengan catatan kecelakaan kerja berulang, jam kerja berlebihan, dan pelanggaran upah yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas.

[embedpress]https://x.com/i/status/2002960638927335744[/embedpress]

Jika praktik seperti ini terus berlangsung lama tanpa perubahan berarti, maka masalahnya tidak bisa lagi dianggap sekadar kesalahan oknum atau pengusaha tertentu. Namun biangnya adalah sistem yang membuat pelanggaran semacam ini terasa biasa dan bisa ditoleransi. Dalam praktik ekonomi kapitalistik, kelancaran produksi lebih diutamakan dibanding keselamatan buruh. Efisiensi biayanya sering diterjemahkan sebagai pemangkasan bahkan peniadaan anggaran jaminan kesehatan buruh, atau penanganan medis mereka yang sifatnya hanya “sekali jalan”. Kita kembali disuguhkan kasus betapa belum cukup tegasnya pengaturan regulasi negara untuk memastikan hak-hak buruh benar-benar dijalankan.

Ketika Ketidakpedulian Menjadi Mekanisme Sistem

Budaya ketidakpedulian terhadap kondisi buruh bukan penyimpangan, melainkan bagian dari aturan main sistem kapitalistik yang menempatkan manusia sebagai faktor produksi. Selama proses kerja menghasilkan output dan tidak mengganggu stabilitas pasar, penderitaan buruh cenderung tidak dianggap sebagai masalah struktural. Jam kerja panjang disebut sebagai kebutuhan industri, upah rendah dianggap konsekuensi daya saing, dan kecelakaan kerja diperlakukan sebagai risiko pribadi.

image_print
  1. Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta aktif mengisi media online dengan tulisannya seputar Dakwah Ideologis. “Dari membaca, revolusi berkobar” adalah mottonya[↩]

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Komentar Terbaru (1)

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.