Meski AS menyatakan skeptis terhadap perundingan tersebut, menurut laporan itu, pemerintahan Trump akhirnya menyetujui menggelar pertemuan tersebut untuk menghormati sekutu-sekutunya di kawasan itu dan mengupayakan penyelesaian diplomatik.
Sulit Diprediksi
Hasil perundingan nuklir antara AS dan Iran akan sulit diprediksi, menurut seorang sumber Iran kepada RIA Novosti, Jumat (6/2/2026). Sumber itu menyebut “kerumitan situasi dan tindakan AS” adalah penyebab sulitnya memperkirakan hasil dialog dengan Iran tersebut.
“Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama (perundingan), khususnya setelah langkah militer agresif yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat,” kata sumber tersebut.
Menurut sumber, langkah agresif tersebut dinilai telah memperdalam jurang ketidakpercayaan dan secara signifikan meningkatkan tingkat kehati-hatian Iran. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran.
Ia menambahkan harapannya agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang adil dan setara, termasuk komitmen untuk sepenuhnya meninggalkan senjata nuklir. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan sebelumnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya masuk ke dalam gelanggang diplomasi dengan mata terbuka dan sebuah memori setahun terakhir. Araghchi menegaskan, Iran selalu terlibat dalam perundingan dengan niat baik dan keteguhan atas perlindungan hak-haknya.
“Komitmen harus dihargai. Berdiri setara, saling menghormati dan kesamaan kepentingan bukan retorika, adalah suatu keharusan dan pilar untuk sebuah kesepakatan yang bertahan lama,” kata Araghchi.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu (4/2/2026) mengatakan campur tangan eksternal terhadap situasi di Iran membawa risiko ke seluruh kawasan. Sementara ia meyakini, penyelesaian diplomatik, termasuk masalah nuklir, tetap menjadi langkah yang paling dapat diterima.
“Kami percaya intervensi eksternal terhadap negara tetangga kami, Iran, adalah ancaman serius bagi seluruh kawasan, dan cara paling masuk akal untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk masalah nuklir, adalah melalui diplomasi,” kata Erdogan dalam pernyataan pers usai perundingan di Mesir.
Turki secara konsisten menganjurkan dialog dan metode Politik untuk menyelesaikan perselisihan, serta menekankan perlunya menghindari upaya yang dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, imbuhnya.


















































































































