UPDATE

NASIONAL

Karhutla Masih Membara, Aktivis Desak Presiden Copot Raja Juli

BANDA ACEH -Aktivis muda nasional Muhammad Fithrat Irfan mendesak Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, bahkan mencopotnya dari jabatan. Hal ini menyusul penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilainya belum memberikan perlindungan memadai kepada masyarakat.

Irfan juga meminta pemerintah mengevaluasi efektivitas pencegahan kebakaran, membuka perkembangan penegakan hukum, serta memastikan pemulihan lingkungan berjalan sesuai kewajiban.

Desakan tersebut disampaikan di tengah penurunan jumlah titik panas, meskipun kebakaran masih terjadi di sejumlah daerah. Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare.

“Saya mendesak Presiden mencopot Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebagai bentuk pertanggungjawaban pejabat publik serta kelalaian atas penanganan karhutla yang saya nilai belum mampu memberikan perlindungan memadai,” kata Irfan dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Oktober 2026.

Irfan menegaskan, desakan itu merupakan kritik terhadap kinerja pejabat publik. Ia menyatakan tidak sedang menuduh Raja Juli secara pribadi melakukan pembakaran atau menyebutnya terbukti melakukan tindak pidana.

Menurutnya, evaluasi harus mencakup efektivitas pencegahan, kecepatan penanganan, kepatuhan pengelola lahan, hingga pemulihan lingkungan.

Titik Panas Turun, Karhutla Masih Terjadi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 12 kejadian bencana pada 26 Oktober 2026. Sebanyak 10 kejadian di antaranya merupakan karhutla yang tersebar di Grobogan, Luwu Timur, Ciamis, Bangka Tengah, Wonogiri, Sukoharjo, Sidenreng Rappang, Kota Batu, Kota Tidore Kepulauan, dan Kota Malang.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan mencatat 147 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi hingga 25 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB. Jumlah tersebut turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 317 titik.

Namun, penurunan titik panas tidak serta-merta menunjukkan kebakaran telah berakhir. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.

Penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah lokasi, antara lain Tanjung Jabung Timur, Jambi, beberapa wilayah di Sumatera Selatan, serta Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Pada lahan gambut, bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan pembasahan dan penyisiran lanjutan.

“Keberanian petugas yang memadamkan api tidak boleh menjadi penutup kelemahan pencegahan. Jangan sampai kerja keras di garis depan menjadi alasan untuk menghindari evaluasi terhadap pengambil keputusan,” ujar Irfan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.