TEHERAN – Di bawah ancaman serangan udara yang terus membayangi ibu kota, Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menunjukkan aksi solidaritas yang menantang risiko dengan turun langsung ke jalan-jalan di Teheran pada peringatan Hari Quds, Jumat (13/3/2026).
Langkah berani para pejabat senior Iran ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang kritis, menyusul laporan bombardir Israel yang menyasar beberapa titik di wilayah Teheran.
Kehadiran fisik para pemimpin di tengah kerumunan massa dipandang sebagai pesan kuat mengenai ketahanan nasional dan penolakan untuk mundur di bawah tekanan militer maupun diplomatik blok AS-Israel.
Simbol Perlawanan di Jumat Terakhir Ramadan
Hari Quds, yang diinisiasi sejak tahun 1979 dan diperingati setiap Jumat terakhir bulan Ramadan, tahun ini berlangsung dengan tensi yang jauh lebih tinggi.
Para demonstran terpantau mengumandangkan yel-yel anti-Israel dan solidaritas untuk Palestina, mengabaikan peringatan keamanan terkait serangan udara yang sedang berlangsung.
Dalam orasinya, Menlu Abbas Araqchi menegaskan bahwa intimidasi militer tidak akan menyurutkan dukungan Teheran terhadap pembebasan Yerusalem.
“Kehadiran kami di sini adalah bukti bahwa rakyat dan pemerintah Iran berdiri dalam satu barisan yang tidak tergoyahkan.
Tekanan udara tidak akan mampu memadamkan semangat perlawanan terhadap zionisme,” tegas Araqchi di hadapan massa.
Penyelarasan Geopolitik: Peran BRICS+
Aksi heroik di jalanan Teheran ini juga membawa pesan geopolitik yang lebih luas. Sebagai anggota baru aliansi BRICS+, Iran memposisikan diri sebagai pilar utama dalam tatanan dunia multipolar yang menentang dominasi unipolar Barat.
Konsolidasi ini merupakan kelanjutan dari komitmen yang dihasilkan pada KTT BRICS 2025 lalu. Dalam forum tersebut, blok BRICS secara kolektif mengutuk agresi militer terhadap kedaulatan Iran dan berkomitmen memperkuat arsitektur keamanan serta ekonomi Teheran melalui kerja sama lintas negara anggota.
Dukungan dari BRICS memberikan ruang bagi Iran untuk tetap stabil secara ekonomi dan politik meski menghadapi sanksi berat dan ancaman perang terbuka.
Partisipasi Presiden Pezeshkian dalam aksi massa ini menegaskan bahwa Iran tidak merasa terisolasi, melainkan didukung oleh kekuatan global baru yang siap menantang hegemoni tradisional.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Teheran masih dilaporkan mencekam dengan sistem pertahanan udara yang tetap dalam siaga tertinggi, sementara ribuan warga masih memadati titik-titik utama kota untuk menyelesaikan prosesi Hari Quds.


















































































































Komentar Terbaru