Sejumlah sekutu Amerika di kawasan Teluk bahkan telah memperingatkan bahwa invasi ke Pulau Kharg dapat menimbulkan korban besar di pihak AS. Mereka mendesak agar rencana tersebut dipertimbangkan ulang mengingat kompleksitas medan tempur yang telah disiapkan Iran.
Spekulasi di Washington juga semakin menguat. Beberapa anggota Partai Republik di Kongres, termasuk pimpinan komite militer DPR dan Senat, disebut memberi sinyal bahwa opsi invasi darat ke Iran tengah dipertimbangkan serius oleh Pentagon.
Namun, para analis militer menilai misi tersebut jauh dari mudah. Brigadir Jenderal purnawirawan Steve Anderson menegaskan bahwa operasi di Pulau Kharg akan menjadi salah satu misi paling menantang yang pernah dihadapi militer AS.
Selain harus menghadapi puluhan ribu penduduk di pulau tersebut, pasukan AS juga berpotensi berhadapan dengan ranjau, jebakan tersembunyi, serta serangan asimetris berupa drone dan rudal. Ditambah lagi, jarak Pulau Kharg yang hanya sekitar 15 mil dari daratan utama Iran memungkinkan dukungan artileri datang dengan cepat.
“Anda mungkin bisa merebut pulau itu, tetapi mempertahankannya akan menjadi tantangan terbesar,” ujar Anderson.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Pulau Kharg kini menjadi titik panas baru yang berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas di kawasan.
Houthi Nyatakan Perang, Rudal Balistik Pertama Mengarah ke Israel
Sementara itu, konflik kian meluas setelah kelompok Houthi di Yaman secara terbuka menyatakan keterlibatannya dalam perang dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengumumkan serangan tersebut melalui televisi Al-Masirah. Ia menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan mereka tercapai dan agresi terhadap “poros perlawanan” dihentikan.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa satu rudal berhasil dicegat. Namun, sirene peringatan sempat berbunyi di wilayah Beer Sheba dan area sekitar pusat penelitian nuklir Israel, menandakan meningkatnya ancaman keamanan.
Serangan ini menjadi yang pertama sejak perang AS-Israel melawan Iran memanas, sekaligus menandai pembukaan front baru dalam konflik kawasan. Sebelumnya, Houthi belum terlibat langsung dalam perang tersebut meski telah lama menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, sejak 2014.
Dalam pernyataannya, Saree menyebut target serangan adalah “situs militer sensitif” di wilayah selatan Israel. Ia juga memberi sinyal bahwa operasi lanjutan bisa terjadi dalam waktu dekat.
Keterlibatan Houthi dinilai memiliki dampak besar terhadap jalur perdagangan global. Selama ini, kelompok tersebut telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang di Laut Merah menggunakan rudal dan drone, bahkan menenggelamkan dua kapal serta menewaskan empat pelaut.



















































































































