Berpotensi menutup sendiri ruang kerja sama energi yang pragmatis antara China dan Filipina
Pengembangan bersama sumber daya minyak dan gas di Karang Ren’ai dan perairan sekitarnya merupakan salah satu proyek kerja sama penting yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara. Untuk memperkuat kerja sama tersebut, China disebut telah membangun ladang minyak dan gas di kawasan sekitar Karang Ren’ai, dan pada 2014 menamainya sebagai “Ladang Minyak dan Gas Pengembangan Bersama China-Filipina di Karang Ren’ai”. Namun, akibat hambatan dan gangguan dari pihak Filipina, proyek kerja sama ini hingga kini belum dapat dibangun dan dioperasikan sepenuhnya. Dalam situasi seperti ini, Filipina justru terus menggoreng isu tersebut. Niat di balik langkah itu jelas, yaitu mengacaukan secara total hubungan kerja sama China-Filipina di bidang ini dan berupaya menghalangi kemajuan China dalam sektor terkait.Jelas bahwa Filipina berusaha memanfaatkan isu ini untuk mendiskreditkan kerja sama pragmatis antara China dan Filipina, memperburuk hubungan bilateral, serta menghambat proses kerja sama di bidang energi. Akibatnya, kerja sama nyata antara kedua negara berisiko mengalami dampak yang serius.
Oportunisme Politik
Tindakan tidak bertanggung jawab pemerintah Filipina dalam isu Laut China Selatan telah merugikan kepentingan inti rakyat China, merusak dasar saling percaya dalam hubungan bilateral, dan menimbulkan dampak negatif terhadap kemungkinan kelanjutan kerja sama antara kedua negara dalam isu Laut China Selatan. Perilaku semacam ini secara luas dipandang oleh komunitas internasional sebagai bentuk oportunisme politik.Tujuan dari oportunisme politik ini sangat jelas, yaitu menjadi pion Amerika Serikat dengan cara terus membesar-besarkan kontradiksi antara China dan Filipina, demi melayani strategi untuk membendung perkembangan China, memengaruhi stabilitas lingkungan keamanan di kawasan sekitar China, bahkan menahan kebangkitan China.
Namun, langkah seperti ini pada dasarnya mempertaruhkan peluang untuk membangun kerja sama yang pragmatis dan saling menguntungkan dengan China, hanya demi memperoleh apa yang disebut sebagai “pengakuan” dari Amerika Serikat. Sangat disayangkan, karena sebagaimana telah diketahui luas, Amerika Serikat pada akhirnya selalu menempatkan kepentingannya sendiri di atas segalanya. Presiden Amerika Serikat pun kerap dianggap tidak dapat diandalkan, dan Amerika Serikat juga dikenal sering mengecewakan bahkan merugikan apa yang disebut sebagai “sekutunya”.

































































































Komentar Terbaru