“Dari hasil penyidikan awal kami menemukan pelaku terdiri dari warga Indonesia dan warga negara asing, sementara korbannya warga Amerika.
Tentunya kami bekerja sama dan berkolaborasi dengan FBI, Bareskrim dan Hubinter untuk mendapatkan keterangan dari para korban tersebut,” lanjut Kombes Himawan.
Kerja sama tersebut diperlukan untuk menelusuri identitas korban sekaligus memperkuat pembuktian perkara yang melibatkan jaringan lintas negara.
Terungkap dari Patroli Siber
Kombes Himawan menjelaskan pengungkapan kasus bermula dari patroli siber yang dilakukan jajarannya.
Dari pemantauan aktivitas di ruang digital, penyidik menemukan indikasi praktik penipuan daring yang beroperasi di wilayah Solo Raya.
“Dari hasil patroli siber kami menemukan ada indikasi kegiatan penipuan online yang dilakukan di wilayah Solo.
Kemudian kami lakukan pendalaman terhadap aktivitas yang dilakukan oleh mereka,” kata dia.
Penyelidikan kemudian mengarah ke sebuah perusahaan bernama PT Digi Global Konsultan di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo.
Menurut hasil penyidikan, perusahaan tersebut digunakan sebagai tempat perekrutan pekerja sekaligus kantor operasional jaringan penipuan yang dijalankan secara terorganisasi.
Sindikat itu disebut kerap berpindah lokasi untuk menghindari perhatian masyarakat maupun aparat penegak hukum.
Mereka menyewa kantor dan sejumlah rumah indekos yang digunakan sebagai pusat operasi sementara.
“Kalau aktivitas mereka mulai diketahui warga, biasanya mereka akan pindah lagi untuk mengaburkan posisi mereka melakukan kegiatan,” kata Kombes Himawan.
Menjual Hubungan Asmara Palsu
Polisi menyebut modus yang digunakan adalah pig butchering, yakni penipuan yang dilakukan dengan membangun hubungan emosional secara intensif sebelum korban dibujuk menginvestasikan uangnya.
Para pelaku mencari target melalui aplikasi kencan seperti Tinder, Puf, dan Boo, serta platform media sosial seperti Facebook.
Asisten marketing bertugas mencari dan menyaring calon korban.
Setelah korban merespons, komunikasi diserahkan kepada marketing yang menggunakan identitas palsu untuk membangun kedekatan emosional.
Sebagian besar operator bahkan disebut merupakan laki-laki yang menyamar sebagai perempuan.
Ketika korban mulai percaya dan meminta panggilan video, model perempuan asli kemudian ditampilkan.
Video call tersebut yang menjadi satu di antara kunci keberhasilan sindikat dalam meyakinkan korban bahwa sosok yang selama ini berkomunikasi dengan mereka benar-benar nyata.
Korban yang sudah terikat secara emosional kemudian diarahkan untuk melakukan investasi kripto melalui platform perdagangan palsu yang telah dikendalikan jaringan pelaku.































































































Beri Komentar