Tak hanya perikanan, Gus Lilur turut menaruh perhatian terhadap persoalan pangan, khususnya beras.
Ia berpandangan sektor pangan memiliki posisi strategis bagi kedaulatan Indonesia dan tidak semestinya hanya dipandang sebagai komoditas perdagangan.
Aktivitas bisnis tersebut berjalan beriringan dengan kegiatan sosial yang menjadi bagian dari kiprahnya.
Cicit Kiai Raden Mas Su’ud
Di balik sosok Gus Lilur, terdapat latar belakang keluarga yang juga lekat dengan tradisi keulamaan di Jawa Timur.
Gus Lilur disebut merupakan cicit Kiai Raden Mas Su’ud, ulama yang dikenal memiliki pengaruh dalam penyebaran Islam di Situbondo, Jawa Timur.
Jejak Kiai Raden Mas Su’ud masih dapat ditemukan di Desa Kayuputih, Situbondo. Salah satunya berupa sebuah musala atau langgar yang disebut memiliki keterkaitan dengan sejarah pesantren yang pernah dipimpinnya.
Pada 1825, atau sekitar 201 tahun lalu, bangunan tersebut disebut merupakan masjid utama Pesantren Kiai Raden Mas Su’ud.
Kiai Raden Mas Su’ud dikenal sebagai ulama yang mendalami ilmu tauhid dan teologi. Dalam sejarah lisan masyarakat setempat, ia juga dikenal memiliki kemampuan kanuragan.
Sosoknya turut dikaitkan dengan perkembangan Islam di Situbondo. Jejak keberadaannya hingga kini disebut masih dapat ditemukan melalui sejumlah peninggalan, di antaranya nisan makam dengan ciri khas ulama Pamekasan dan Sumenep serta bangunan masjid kayu yang masih berdiri.
Garis keturunan Kiai Raden Mas Su’ud pun terus berlanjut, salah satunya melalui Gus Lilur yang kini dikenal publik setelah menyampaikan sejumlah pernyataan mengenai dugaan aliran dana dalam Muktamar NU.































































































Beri Komentar