Membentuk Ruang bagi Generasi Muda
Kecintaan Guruh terhadap seni kemudian tidak berhenti pada penciptaan karya pribadi.
Pada 27 Maret 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika, sebuah wadah yang ditujukan untuk aktivitas seni dan kebudayaan anak muda.
Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika.
Melalui wadah tersebut, Guruh terlibat dalam berbagai pertunjukan sebagai koreografer, komposer, maupun konseptor.
Salah satu karya yang memperlihatkan konsistensinya mengangkat identitas Indonesia adalah pertunjukan Sri Mimpi Indonesia yang digelar pada 2013 di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.
Pertunjukan tersebut menghadirkan puluhan lagu dengan tema Indonesia, budaya, cinta, kasih manusia, dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Guruh juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya tradisional.
Ia pernah belajar dari sejumlah maestro seni, antara lain I Wayan Diya, I Wayan Rindi, Anak Agung Ayu Oka, Ni Ketut Reneng, I Nyoman Kakul, I Gusti Kompyang Raka, Anak Agung Gede Ngurah Mandera, hingga I Made Gerindem.
Untuk musik, Guruh juga pernah belajar dari komponis Mochtar Embut dan Ismail Marzuki.
Dari Musik hingga Batik
Dunia seni yang digeluti Guruh tidak terbatas pada musik dan tari.
Ia juga mengeksplorasi dunia busana dan batik. Pada 2008, Guruh menampilkan koleksi batik modern melalui pertunjukan Persada Sembagi Wungu di Solo.
Dalam karya tersebut, ia mencoba mempertemukan batik dengan busana modern, termasuk mengaplikasikan motif batik pada bahan denim.
Bagi Guruh, batik bukan sekadar produk fesyen. Batik merupakan warisan budaya dan kekayaan intelektual Indonesia yang perlu dirawat dan dikembangkan.
Karena itu, ia mendorong agar batik terus mengikuti perkembangan zaman dan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Kreasi busana yang diperkenalkannya juga memperlihatkan upayanya mempertemukan unsur tradisional dengan gaya modern. Mulai dari kebaya, kain, busana pria, rok bergaya Barat, hingga denim bermotif batik.
Penghargaan untuk Dedikasi Seni
Panjang perjalanan Guruh di dunia seni membuatnya menerima sejumlah penghargaan.
Di antaranya penghargaan untuk ilustrasi musik dan film dari Festival Film Indonesia pada 1978, Chevalier dari Pemerintah Prancis pada 1991, penghargaan Bakti Budaya dari Kebudayaan Jawa Surakarta pada 1995, Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1996, serta Lifetime Achievement Award dari I-Radio pada 2001.
Berbagai penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Guruh sebagai seniman yang menjadikan budaya Indonesia sebagai sumber utama kreativitasnya.































































































Beri Komentar