Menurut Edy, demokrasi yang terlalu bergantung pada kekuatan modal akan rentan terhadap kepentingan pemodal.
“Demokrasi yang ditopang oleh fondasi logistik bohir sungguh sangat rapuh,” katanya.
Tawarkan Perspektif Islam
Pada bagian akhir tulisannya, Edy menawarkan perspektif Islam mengenai kepemimpinan dan tata kelola sumber daya alam.
Ia mengutip prinsip Al-Qawiyyu Al-Amin, yakni kepemimpinan yang memiliki kemampuan sekaligus amanah. Menurut Edy, kepemimpinan seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan dan modal politik.
Ia juga menyoroti konsep kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah) dalam Islam yang, menurutnya, menempatkan sumber daya alam tertentu sebagai aset yang harus dikelola untuk kepentingan masyarakat luas.
“Rakyat tidak boleh pasrah menjadi penonton. Kesadaran kritis masyarakat yang berlandaskan moral dan etika agama adalah benteng terakhir demokrasi,” tulis Edy.
Tulisan Edy Mulyadi tersebut merupakan analisis dan pandangan politik penulis terhadap perkembangan PSI, Jokowi, Gibran, serta dinamika hukum dan politik menjelang 2029.
Media ini memberikan ruang bagi pihak-pihak yang disebut maupun dikritik dalam tulisan tersebut, termasuk Joko Widodo, PSI, Gibran Rakabuming Raka, maupun pihak terkait lainnya, untuk menyampaikan klarifikasi, bantahan, atau tanggapan sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.































































































Beri Komentar