UPDATE

ACEH
ACEH

Syech Muharram: Jangan Sampai Anak Aceh Tak Bisa Berbahasa Aceh

Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Besar menindaklanjuti upaya perlindungan kekayaan intelektual atas warisan budaya tersebut sesuai mekanisme yang berlaku.

“Kuah beulangong merupakan budaya khas Aceh Besar. Saya minta Disdikbud dan Bappeda tolong hak paten diurus, karena sudah banyak yang menjadi khazanah kita dipergunakan hak miliknya oleh daerah lain,” kata Syech Muharram.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Ia menjelaskan, kekayaan budaya Aceh Besar meliputi bahasa, adat istiadat, kesenian, kuliner, hingga adab dalam kehidupan masyarakat. Seluruh unsur tersebut perlu dirawat dan dikembangkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Upaya pelestarian budaya itu juga sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk menjadikan daerah tersebut sebagai destinasi wisata religi Islami. Daya tarik Aceh Besar, menurutnya, tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada kekayaan tradisi, identitas budaya, dan penerapan nilai-nilai syariat dalam kehidupan masyarakat.

Di bidang pendidikan, Syech Muharram mendukung pengembangan seni dan budaya melalui program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Namun, ia menegaskan bahwa penguatan kreativitas siswa perlu berjalan seimbang dengan pendidikan agama melalui program Beut Kitab Bak Sikula (BKBS).

“BKBS harus kita jaga. Anak-anak selain belajar tentang budaya juga harus diimbangi dengan belajar agama di sekolah,” ujarnya.

273 Siswa Ikuti Festival Piasan Aceh Rayeuk

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, M. Isa, selaku ketua panitia, menyampaikan bahwa Festival Piasan Aceh Rayeuk 2026 berlangsung pada 13–15 Oktober 2026. Kegiatan tersebut melibatkan 273 siswa dari 15 sekolah.

Festival tahunan yang sebelumnya diselenggarakan di Kecamatan Indrapuri dan Blang Bintang itu menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, serta kecintaan terhadap bahasa ibu.

Para peserta mengikuti enam cabang perlombaan, di antaranya pidato bahasa Aceh, hadih maja, lagu jameun, calitra paneuk, dan meucagok. Juara pertama dari setiap cabang akan dipersiapkan untuk mewakili Aceh Besar pada kompetisi tingkat Provinsi Aceh.

Kepala Subbagian Umum Balai Pelestarian Bahasa Wilayah I Kementerian Kebudayaan RI, Cut Zahrina, yang hadir mewakili kepala balai, mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut.

Ia berharap kegiatan itu tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga berkembang menjadi gerakan berkelanjutan untuk menghidupkan tradisi, memperluas ruang kreativitas seniman, serta memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.