Menjelang akhir masa studinya di Yogyakarta, Dek Rina juga mengikuti kegiatan bersama masyarakat di Desa Gadjah Wong yang melibatkan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. Dalam kegiatan tersebut, ia menjadi salah seorang pemateri dengan membahas pengolahan limbah buah menjadi hand sanitizer serta peluang pengembangannya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat setempat.
“Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa ilmu pengetahuan akan lebih bermakna ketika bisa diterapkan untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat. Jadi, kesempatan kuliah sebaiknya tidak hanya dimanfaatkan untuk mengejar nilai dan gelar, tetapi juga untuk membangun pengalaman, kepedulian, serta kemampuan memberikan solusi,” katanya.
Kesempatan pengembangan diri berlanjut pada tahun ketiga perkuliahan. Pada Oktober hingga Desember 2024, Dek Rina memperoleh kesempatan mengikuti program research attachment selama sekitar dua bulan melalui kerja sama bidang Fisika FMIPA USK dengan Sekolah Fisika Universiti Sains Malaysia (USM).
Selama mengikuti program tersebut, ia mempelajari bidang fisika medis dengan dukungan instrumen penelitian yang lengkap, termasuk memperoleh pengalaman belajar di dua rumah sakit di Penang. Ia juga dikenalkan dengan berbagai bidang fisika lainnya, mulai dari penggunaan perangkat lunak geofisika, pengambilan data menggunakan Near-Infrared (NIR) Spectroscopy, pemanfaatan sensor kualitas udara, hingga pengamatan langit menggunakan berbagai teleskop.
“Kesempatan belajar di Universiti Sains Malaysia membuka wawasan saya bahwa satu bidang ilmu memiliki banyak cabang dan peluang penelitian. Kita perlu berani mencoba hal-hal baru, memperluas pengetahuan, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan selama kuliah,” ungkapnya.
Pada Mei 2025, Dek Rina kembali memperoleh kesempatan mengikuti research attachment di Kulliyyah of Information and Communication Technology (KICT), International Islamic University Malaysia (IIUM). Dalam program tersebut, ia mendalami kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) tingkat lanjut.
Ia bahkan mendapat penugasan ke salah satu rumah sakit di Kuala Lumpur untuk berinteraksi langsung dengan pasien guna mendukung pengumpulan data bagi pengembangan aplikasi berbasis AI yang diharapkan dapat membantu pasien stroke menjalani rehabilitasi secara mandiri di rumah.
Dalam proses penyelesaian tugas akhirnya yang berkaitan dengan instrumen dan IoT, Dek Rina juga membawa alat pendeteksi kualitas minyak nilam untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional yang diikuti peserta dari sekitar 16 negara. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil meraih medali emas.
































































































Beri Komentar