UPDATE

AMERIKAINTERNASIONAL

China dan Rusia Veto Resolusi DK PBB, Upaya Pembukaan Selat Hormuz Kandas

NEW YORK – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) gagal mengesahkan resolusi krusial yang menuntut Iran untuk segera membuka kembali akses navigasi di Selat Hormuz.

Kegagalan ini terjadi setelah dua anggota tetap, Rusia dan China, menggunakan hak veto mereka dalam pemungutan suara yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, Rabu (08/04/2026).

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Meskipun draf resolusi tersebut mendapatkan dukungan mayoritas dari 11 negara anggota—termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jepang—langkah hukum internasional ini dinyatakan batal total.

Berdasarkan aturan PBB, veto dari satu saja anggota tetap cukup untuk menghentikan pengesahan keputusan, terlepas dari jumlah dukungan yang ada.

Perpecahan Kekuatan Besar

Mengutip laporan Reuters, kebuntuan di Dewan Keamanan ini mencerminkan jurang perbedaan yang semakin dalam antara blok Barat dan aliansi Rusia-China dalam memandang krisis di Teluk Persia.

Pihak Moskow dan Beijing secara tegas menilai bahwa tekanan melalui resolusi saat ini adalah langkah yang “tidak sesuai”.

Mereka berargumen bahwa tindakan tersebut justru berisiko memicu eskalasi militer yang lebih luas dan memperparah ketegangan di kawasan yang sudah mendidih.

“Langkah paksaan hanya akan menutup pintu diplomasi,” ujar salah satu diplomat senior dalam sidang tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.

Dampak Global dan Stabilitas Kawasan

Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia, di mana hampir seperlima konsumsi minyak global melintasi jalur sempit tersebut setiap harinya. Penutupan selat ini oleh Iran telah memicu lonjakan harga komoditas energi dan kekhawatiran akan gangguan rantai pasok global.

Amerika Serikat dan sekutunya menyatakan kekecewaan mendalam atas hasil pemungutan suara ini.

Mereka menuduh Rusia dan China menghalangi upaya kolektif untuk menjamin kebebasan navigasi internasional.

Sebaliknya, pihak Rusia bersikeras bahwa solusi harus dicapai melalui dialog regional tanpa campur tangan eksternal yang bersifat menekan.

Gagalnya resolusi ini menandai babak baru dalam kebuntuan geopolitik di Teluk Persia, meninggalkan komunitas internasional dalam ketidakpastian mengenai masa depan stabilitas keamanan di jalur maritim paling strategis di dunia tersebut.

image_print

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.