BANDA ACEH – Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) baru-baru ini menjadi topik hangat di kalangan netizen Indonesia.Pasalnya, universitas tersebut dikabarkan melarang total mahasiswanya untuk berjilbab.
Seorang mantan calom mahasiswa Unhan yang berinisial AW membagikan ceritanya.
AW mengaku, sebelumnya ia hanya mendengar desas-desus bahwa universitas tersebut memang tidak mengizinkan mahasiswanya untuk berjilbab.
Namun, ketika AW mencari tahu tentang hal tersebut, tidak ada peraturan resmi tertulis dari universitas yang menyatakan hal demikian, sehingga AW tetap lanjut mendaftar.
AW mendaftar sebagai mahasiswa Kedokteran Militer Unhan, dan resmi diterima sebagai bakal calon kadet Unhan, kendati 15 jam kemudian ia memilih mengundurkan diri karena tidak diizinkan berjilbab.
Selama proses seleksi dan pendaftaran, calon mahasiswa yang berjilbab memang diberi kesempatan dan difasilitasi sebagaimana mestinya.
Di akun resmi penerimaan mahasiswa baru (PMB) Unhan, calon mahasiswa yang berjilbab juga diberi arahan pakaian yang harus mereka kenakan saat tes, tanpa ada perintah untuk melepas jilbab.
“Hijabers memang diberi kesempatan dan difasilitasi selama mengikuti tes, tetapi tidak diberi pilihan setelah dinyatakan lulus menjadi mahasiswa,” Tulis AW di akun Instagram @wafaahdina.
AW menceritakan lebih lanjut.
Dalam proses pendaftaran; wawancara, tes kesehatan, dan sebagainya, pengawas memang sudah berkali-kali memperingatkan tentang kewajiban melepas jilbab.
Namun, ketika lolos ke tahap-tahap berikutnya dengan tetap diizinkan menggunakan jilbab, AW merasa memiliki harapan untuk tetap berjilbab meski ketika menjadi mahasiswa.
Namun harapan itu seketika runtuh.
AW yang sudah dinyatakan diterima sebagai bakal calon kadet Unhan, kembali diberikan peringatan oleh pengawas yang justru menggunakan hijab.
Detik-detik penandatanganan kontrak menjadi calon kadet dia dibuat kaget.
“Untuk yang berjilbab, berarti mulai sore nanti kalian sudah tidak memakai jilbab lagi karena rambut kalian akan dipotong,” tegas pengawas berhijab itu.
Pada saat penandatanganan kontrak, AW kembali bertanya kepada pengawas tentang aturan tertulis yang menyatakan larangan tersebut.
Sebab ia melihat, tidak ada poin spesifik yang menyebutkan aturan demikian.
“Iya benar. Tidak ada. Itu arahan xxx saat menjabat menjadi menteri pertahanan,” lanjutnya menirukan jawaban pihak Unhan.
Saat itu AW masih bernegosiasi dengan pihak Unhan untuk diizinkan tetap memakai jilbab dengan membawa contoh mahasiswa Palestina yang berkuliah di Unhan tetap diizinkan untuk memakai jilbab.































































































Beri Komentar