Oleh:Rosadi Jamani
SONY SONJAYA sebelum ditangkap, mulutnya seperti malaikat. “Demi Allah” sering diucapkannya, tanda ia bersih.
Nyatanya, Sony dipecat Presiden Prabowo Subianto dan dijebloskan penjara. Hal menarik, ia siap menjadi Justice Collaborator. Wah, bakal kebuka ni dalang besarnya.
“Ngerti ora son” jadi ingat sinetron Jin dan Jun. Sony Sonjaya, pensiunan Irjen lulusan Akpol 1991. Satu angkatan dengan Kapolri. Pernah malang melintang di dunia reserse dari Majalengka, Bandung, Jawa Barat, hingga Aceh.
Kariernya panjang, pangkatnya tinggi, dan pengalaman investigasinya setebal dakwaan jaksa pada Nadiem.
Lalu Sony masuk ke BGN. Awalnya menjadi Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II. Kemudian pada 17 September 2025 dilantik Presiden Prabowo menjadi Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.
Di sinilah cerita mulai terasa seperti film superhero. Sebelum ditangkap, Sony tampil bak Kapten Amerika versi program MBG. Ke sana ke mari memburu dugaan penipuan jual beli titik SPPG. Berkali-kali menegaskan, pendaftaran SPPG gratis. Tidak ada pungutan. Tidak ada biaya. Tidak ada transaksi gelap.
Sony juga aktif membantu korban phishing, berkoordinasi dengan Bareskrim, dan mendorong penindakan terhadap para oknum. Pokoknya citranya waktu itu seperti malaikat lalu lintas yang mengatur kendaraan integritas di jalan raya birokrasi.
Lalu datanglah malam keramat itu. Tanggal 2 Juni 2026. Dalam wawancara yang sekarang menjadi artefak sejarah internet Indonesia, Sony membantah keras tuduhan jual beli titik SPPG.
Bukan bantahan biasa. Bukan bantahan level kecamatan. Ini bantahan kelas stadion. “Demi Allah, saya tidak pernah menjual titik.”
Sony bahkan mengatakan siap membawa Al-Quran dan bersumpah di atasnya. Kalimat itu meluncur gagah seperti roket yang baru lepas landas. Masalahnya, roket tersebut belum sempat meninggalkan atmosfer.
Besoknya meledak. Tanggal 3 Juni 2026, Prabowo mencopot pimpinan BGN. Tidak lama kemudian Kejagung menetapkan Sony sebagai tersangka bersama Dadan Hindayana dan Lodewyk Pusung dalam dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis, khususnya terkait pengadaan dan penunjukan titik SPPG.
Netizen langsung mengalami cedera leher massal akibat terlalu cepat menoleh mengikuti alur cerita. Namun bagian paling bikin rakyat memicingkan mata adalah urusan harta. Pada 27 Maret 2025, total kekayaan Sony tercatat sekitar Rp906 juta.
Setahun kemudian, 30 Maret 2026, jumlahnya berubah menjadi Rp12,987 miliar. Naiknya sekitar Rp12 miliar. Dalam waktu kurang lebih satu tahun. Kalau itu tanaman cabai, petaninya sudah dapat Nobel Pertanian. Kalau itu ikan lele, kolamnya mungkin sudah bisa menelan kapal pesiar.
































































































Beri Komentar