UPDATE

Salam.life
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Wakili GRAS, Nurhabli Ridwan Ikuti Bootcamp Petani Muda Organik Se-Sumatera

LANGKAT — Founder sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Nurhabli Ridwan, terpilih sebagai salah satu dari 20 peserta Bootcamp Organic Youth Movement (OYM) Regional Sumatera 2026 yang diselenggarakan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) di Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup (PPLH) Bahorok, Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 24–28 Juni 2026.

Bootcamp OYM merupakan program pengembangan kapasitas petani muda yang bertujuan memperkuat pemahaman mengenai filosofi, prinsip, dan praktik pertanian organik sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan.

Program ini juga mendorong peningkatan kesadaran terhadap dampak perubahan iklim pada sektor pertanian, memperkenalkan strategi adaptasi dan mitigasi berbasis pertanian organik, serta mencetak generasi petani muda yang mampu menjadi penggerak regenerasi pertanian di Indonesia.

Dari ratusan pendaftar yang mengikuti proses seleksi, hanya 20 petani muda terpilih dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera dinyatakan lolos untuk mengikuti pelatihan intensif selama lima hari.

Koordinator Program AOI, Mika Ria Matondang, mengatakan regenerasi petani menjadi tantangan besar bagi Indonesia.

Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, jumlah usaha pertanian mengalami penurunan dibandingkan satu dekade sebelumnya, sementara sektor pertanian masih didominasi petani berusia lanjut.

Kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan sistem pangan nasional apabila tidak diimbangi dengan peningkatan partisipasi generasi muda.

Aliansi Organis Indonesia (AOI), sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang pertanian sekaligus anggota International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM), turut prihatin dengan kondisi jumlah petani muda yang terus menurun setiap tahun.

Keprihatinan ini juga dirasakan para pelaku pertanian organik di Asia, sehingga para pemuda dari IFOAM Asia kemudian membentuk forum untuk menampung berbagai ide dan permasalahan terkait pertanian, termasuk isu petani muda.

Forum tersebut dikenal sebagai Organic Youth Forum (OYF), yang menjadi wadah berkumpulnya praktik pertanian terbaik sekaligus pengembangan sistem pertanian dan gerakan petani muda.

AOI terus mendorong petani muda anggotanya untuk turut bergabung dalam program-program petani muda yang dilaksanakan IFOAM.

Pada 2021, forum ini mulai digagas untuk dibentuk di Indonesia. Kemudian pada 2023, AOI bersama mitra sukses melaksanakan Organic Youth Camp (OYC) yang memfasilitasi 25 pemuda dalam pelatihan intensif.

Selanjutnya, AOI mengembangkan platform Organic Youth Movement (OYM) yang telah memfasilitasi tiga seri bootcamp di tiga region di Indonesia.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar pertanian organik, hubungan pertanian dengan perubahan iklim, teknik budidaya organik, sistem penjaminan dan standar organik, diversifikasi produk, pengolahan hasil pertanian, manajemen panen dan pascapanen, analisis usaha tani, hingga strategi pemasaran produk organik.

Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti observasi lapangan di kawasan PPLH Bahorok serta kegiatan penguatan karakter melalui team building, trekking, susur sungai, dan body tubing di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Wilayah Bukit Lawang yang dipandu tim HPI Bukit Lawang dan panitia.

Kegiatan juga diisi dengan malam keakraban budaya dan barbeku di area perkemahan PPLH Bahorok.

Pada hari terakhir, seluruh peserta menyusun rencana tindak lanjut yang akan diterapkan di daerah masing-masing sebagai bentuk implementasi ilmu yang diperoleh, sebelum menerima sertifikat kelulusan.

Salah satu narasumber, Ir. H. Soekirman, Honorary Ambassador ALGOA sekaligus Kepala Bidang Pertanian Perpukadesi, dalam membawakan materi Dasar Pertanian Organik dan Keterkaitannya dengan Perubahan Iklim, menjelaskan bahwa pangan sehat sama dengan pangan organik, dan bahwa tren pola konsumsi vegetarian dan plant-based terus meningkat, baik secara global maupun di Indonesia.

Menurutnya, fenomena tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, kelestarian lingkungan, dan hak-hak hewan.

Ia juga menekankan pentingnya kebijakan hukum perubahan iklim yang mencakup upaya hukum nasional dan internasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan dampaknya.

Instrumen tersebut meliputi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2015, United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Protokol Kyoto, dan Perjanjian Paris (Paris Agreement – UU Nomor 16 Tahun 2016).

Di tingkat nasional, Indonesia memiliki UU Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan UNFCCC serta UU Nomor 16 Tahun 2016 tentang Ratifikasi Perjanjian Paris, yang juga merujuk pada hasil UNFCCC Bali 2007.

Menurut Soekirman, generasi muda perlu memahami keterkaitan antara perubahan iklim dan modernisasi pertanian agar upaya mitigasi risiko serta adaptasi dapat dilakukan secara bersamaan.

Ia menegaskan bahwa pertanian organik memiliki peran penting dalam menjaga kesuburan tanah, meningkatkan ketahanan lingkungan, mendukung kesehatan masyarakat, serta memperkuat keterlibatan generasi muda dalam mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Nurhabli Ridwan, yang merupakan salah satu peserta OYM delegasi dari GRAS, menyampaikan apresiasi kepada Aliansi Organis Indonesia, PPLH Bahorok, Ir. H. Soekirman, Rivan Rinaldi selaku Founder dan Executive Director Rumah Pangan Aceh (RPA), para narasumber, panitia, serta seluruh peserta OYM Regional Sumatera 2026 atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Saya merasakan banyak manfaat dari kegiatan OYM Regional Sumatera 2026 serta menjadi pengalaman yang sangat berharga karena saya memperoleh banyak pengetahuan baru sekaligus bertemu dengan petani-petani muda inspiratif dari berbagai daerah di Sumatera. Pertukaran pengalaman ini menjadi bekal penting untuk mengembangkan pertanian organik sekaligus memperkuat gerakan pelestarian lingkungan,” ujar Nurhabli.

Di akhir pelatihan, Nurhabli juga menuliskan komitmennya untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama Bootcamp OYM Regional Sumatera 2026 secara bertahap di daerahnya.

Pada tiga bulan pertama, ia menargetkan membuat eco enzyme sebagai langkah awal mendukung praktik pertanian organik melalui pemanfaatan limbah organik rumah tangga.

Selanjutnya, hasil eco enzyme tersebut akan diaplikasikan pada berbagai tanaman sebagai pupuk organik cair dan biostimulan alami, guna meningkatkan kesuburan tanah, mendukung pertumbuhan tanaman, mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis, sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim.

Sementara itu, Mika Ria Matondang menambahkan bahwa OYM juga memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran petani muda terhadap pentingnya sistem pertanian organik dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, program ini menjadi ruang kolaborasi bagi petani muda, aktivis lingkungan, akademisi, dan pelaku pertanian organik untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta solusi dalam menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian.

Pelaksanaan OYM Regional Sumatera 2026 berlangsung bersamaan dengan kegiatan serupa di Regional Nusa Tenggara Timur.

AOI juga dijadwalkan menggelar Bootcamp OYM Regional Jawa Tengah pada Agustus 2026, sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan petani muda organik di Indonesia.

Melalui jejaring yang terbentuk selama pelatihan, diharapkan lahir berbagai kolaborasi yang mampu memperkuat pengembangan pertanian organik di Sumatera maupun Indonesia secara lebih luas, sekaligus meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan menghadapi dampak perubahan iklim.

image_print
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.