Nikel sebagai salah satu bahan baku baterai listrik yang hendak pula digarap Indonesia telah memberikan masyarakat yang tinggal di sekitar tambang mengalami kerugian, dari mulai pencemaran lingkungan, rusaknya ekosistem dan biota laut akibat pembuangan limbah proyek pertambangan yang jor-joran. Mata pencaharian mereka pun rusak, padahal profesi sebagai nelayan sudah turun temurun. Masih ingat dengan kasus koropsi tambang Nikel di blok Mandiogo, Sulawesi Tenggara yang merugikan pemerintah Rp5,7 Triliun?
Memunculkan nama Ridwan Djamaluddin sebagai tersangka karena memuluskan praktik pertambangan ilegal di lahan kosensi Nikel PT. Antam. TBK. Koordinasi Nasional Jaringan Advokasi Tambang ( JATAM) Melky Nahar meminta pemerintah mengevaluasi seluruh izin dan praktik pertambangan Nikel di Indonesia yang bak fenomena gunung es.
Ridwan diketahui memimpin rapat terbatas yang kemudian memberikan kuota pertambangan Ore Nikel ke PT. Kabaen Komit Pratama sebesar 1,5 juta ton pada tahun 2022. Sedangkan sebelumnya, tahun 2021, pemerintah telah menerbitkan 293 Izin Usaha Pertambangan ( IUP) Nikel di Sulawesi. Tanpa pengawasan dan penegakkan hukum yang ketat. Di mana bagian rakyat? Para pemimpin di negeri ini bukan sembarang orang, bahkan kebanyakan muslim. Namun mengapa setiap kebijakan selalu mendahulukan para pemilik modal besar dan abai terhadap kebutuhan rakyat sendiri?
Namun, kapitalisme yang berasas sekuler meniscayakan hal ini, dalam teorinya tak ada perhitungan lain kecuali produksi dan produksi, tak peduli apakah produk tersebut diserap rakyat atau tidak, membawa maslahat atau tidak, bahkan tak peduli apakah insentif ini memang yang paling dibutuhkan dibandingkan mengentaskan kemiskinan ekstrem, mengatasi stunting, pendidikan yang merata, kesehatan yang murah dan mudah, hingga kerusakan generasi akibat kebebasan seksual dan lainnya.
Islam, Sejahterakan Rakyat Secara Hakiki
Islam tidak menolak adanya kemajuan teknologi, bahkan kelak Kholifah akan mendorong rakyat untuk terus menerus mengembangkan sains dan teknologi. Muncullah nama-nama penemu dan ilmuwan jauh sebelum ilmuwan Eropa. Seperti Abbas bin Firnas Penerbang Pertama, Al JazariInsinyur Mesin, Ibnu Sina: Bapak Kedokteran, Az Zahrawi dokter Bedah, Fathimah Al Fitri, Ibu Pendiri Universitas, Ibnu Al Haytham: Bapak Optik, Ibnu Battuta: Sang Penjelajah Dunia dan masih banyak lainnya.
Namun, konsep yang diusung bukan untuk keuntungan para kapitalis melainkan maslahat umat. Semisal dibutuhkan kendaraan listrik pun hal itu atas pertimbangan kemaslahatan umat. Maka, negara akan memastikan seluruh kebutuhan pokok rakyat terpenuhi dengan mudah, dengan cara menata kota, desa menjadi lingkungan dengan sarana dan prasarana lengkap dan berkualitas dan rakyat mudah mengaksesnya.
































































































