Dikabarkan pula, perusahaan otomotif asal Jerman, Volkswagen, lantaran krisis keuangan, berencana PHK besar-besaran. Puluhan ribu karyawan telah kehilangan pekerjaan sebagai dampak dari penutupan tiga pabriknya. Ini dilakukan lantaran lemahnya permintaan pasar China dan Asia serta transmisi pada mobil listrik.
Kondisi ekonomi dunia yang lesu merupakan tantangan sendiri bagi Prabowo dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Kendati basis ekonomi Indonesia pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan tambang yang merupakan kebutuhan dasar manusia.
Berbeda halnya dengan ekonomi negara-negara maju yang berbasis pada industri dan jasa yang terdampak langsung dengan menurunnya produksi industri dan transisi dunia pada ekonomi digital.
Sesungguhnya, pemerintah telah menjadikan tantangan sebagai peluang ekonomi digital. Studi Google Termasek, Bain and Company menyebutkan bahwa pada dua tahun lalu, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai 77 miliar dolar AS. Nilai ini diprediksikan akan meningkat dua kali lipat menjadi 130 miliar dolar AS pada tahun depan.
Walau begitu, Prabowo tak terlalu bangga dengan data dan angka statistik yang menunjukkan ekonomi Indonesia memiliki prospek yang baik. Apalagi, muncul banyak orang kehilangan pekerjaan karena PHK.
Oleh karena itu, bisa dimengerti, bila Prabowo gercep mengatasi potensi PHK Sritex. Sebab, jumlah PHK pada 2023 sudah mencapai 64 ribu kasus.
Bila PHK perusahan tekstil konglomerat India ini dibiarkan, pasti menjadi bom waktu bagi peningkatan kasus PHK yang menggoyang ekonomi nasional.
Terus terang, sikap Prabowo dalam menangani perusahaan pailit di atas, membawa optimisme merekah. Presiden gemoy yang sudah cukup berusia ini ternyata, masih sangat lincah, gesit, dan tangkas membuat keputusan yang cepat, tepat dan berpihak pada kepentingan buruh kecil.
(Penulis adalah Pendiri Eksan Institute dan Penulis Buku ” Kerikil Di balik Sepatu Anies”.)


































































































Komentar Terbaru