“Proses pemulihan Aceh dari 2005 hingga 2009 adalah bukti nyata bahwa dengan kebersamaan dan gotong royong, kita mampu bangkit dari keterpurukan. Rumah-rumah dibangun kembali, sekolah-sekolah berdiri kokoh, masjid-masjid dan fasilitas publik lainnya kembali difungsikan. Aceh hari ini adalah simbol ketahanan, kedamaian, dan harapan,” ucapnya.
Oleh karena itu, Pj Gubernur atas nama Pemerintah dan rakyat Aceh menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada Pemerintah Pusat, seluruh negara sahabat, lembaga donor, berbagai organisasi kemanusiaan internasional dan nasional yang telah membantu Aceh pada masa tanggap darurat, masa rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga saat ini.
“Bantuan, dukungan, dan solidaritas yang diberikan menjadi fondasi penting bagi kebangkitan Aceh pascatsunami. Kami tidak akan pernah melupakan kontribusi dan ketulusan hati dari semua pihak yang telah membantu meringankan beban kami di masa-masa sulit,” kata Pj Gubernur.
Oleh karena itu, Safrizal menyambut baik penyelenggaraan Aceh International Forum 2024 ini, dan mengajak para peserta untuk menjadikannya sebagai momentum penting untuk merefleksikan perjalanan Aceh selama dua dekade terakhir.
“Forum ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mempererat kerja sama internasional, berdialog tentang moderasi beragama, serta membangun fondasi yang kokoh untuk perdamaian dan kesejahteraan bersama. Moderasi beragama adalah kunci penting untuk menjaga harmoni dalam keberagaman. Aceh, yang dikenal sebagai Bumi Serambi Mekkah, adalah provinsi dengan mayoritas penduduk Muslim. Namun, kehidupan masyarakat minoritas non-Muslim di sini selalu berjalan damai dan harmonis,” sebut Safrizal.
“Masyarakat Aceh telah membuktikan bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan yang harus dirawat dan dijaga. Syariat Islam yang berlaku di Aceh dilaksanakan dengan ruh Rahmatan Lil Alamin, yang membawa keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua manusia,” sambung Pj Gubernur.
Pada kesempatan tersebut, Pj Gubernur mengapresiasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Teuku Umar, dan seluruh pihak yang telah bekerja keras untuk menyelenggarakan forum bergengsi ini. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat, baik lokal, nasional, maupun internasional, menunjukkan betapa pentingnya acara ini dalam membangun dialog lintas agama dan kebudayaan.
“Pemerintah Aceh berkomitmen penuh untuk mendukung kegiatan ini. Kami percaya bahwa melalui dialog, kolaborasi, dan pemahaman yang lebih baik antarumat beragama, kita dapat menciptakan dunia yang lebih damai dan adil. Semangat kebersamaan yang kita bangun di forum ini semoga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian,” ujar Safrizal.















































































































