UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONAL

Hati-hati Bikin Kebijakan terkait Perut Rakyat, Bahlil Lahadalia Jangan Jadi Benalu Prabowo

BANDA ACEH – Anggota Komisi XII DPR RI Zulfikar Hamonangan mengingatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, berhati-hati dalam membuat kebijakan.”Hati-hati buat kebijakan yang bisa berdampak pada kehidupan masyarakat,” ujar Zulfikar dihubungi inilah.com, Jakarta, Selasa (4/2/2025).

Menurutnya, kebijakan hapus pengecer elpiji (LPG) 3 Kg yang dibuat oleh Bahlil ini bisa merusak citra baik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Apalagi, kebijakan yang dibuat oleh Bahlil bukanlah perintah dari kepala negara.

“Karena bisa berdampak pada pemerintahan bapak Prabowo yang nantinya menjadi sorotan masyarakat apalagi gas melon ini sudah termasuk kebutuhan pokok masyarakat,” kata dia.

Aksi Kaninus 16

Sebelumnya, Bahlil memaksa pengecer menjadi pangkalan elpiji. Belakangan karena gaduh dan mustahilnya pengecer menjadi pangkalan, Ketum Partai Golkar mewacanakan skema sub pangkalan. Lucunya, Bahlil tak bisa menjelaskan bagaimana skema perubahan pengecer menjadi sub pangkalan. Dia mengaku baru akan berdiskusi dengan PT Pertamina untuk membahas kebijakan serta aturan sub pangkalan.

“Saya nanti rapat dengan Pertamina habis ini langsung kita maraton. Kalau memang pengecer-pengecer yang sekarang sudah bagus-bagus, sudah kita kasih dulu izin sementara untuk kita naikkan sebagai sub pangkalan tanpa biaya, enggak usah pakai biaya-biaya,” ujarnya, di Jakarta, Senin (3/2/2025).

Rupanya kebijakan penghapusan pengecer dalam mata rantai distribusi elpiji 3 Kg, bukan kebijakan Presiden Prabowo. Berani betul Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil keputusan tanpa persetujuan presiden.

Kebijakan Bahlil ini telah membuat gaduh dan memakan korban jiwa. Oleh karena itu, presiden menginstruksikan agar penjualan gas kembali berjalan seperti semula di agen atau pengecer.

“Sebenarnya ini bukan kebijakan dari Presiden untuk kemudian melarang kemarin itu, tapi melihat situasi dan kondisi, tadi Presiden turun tangan untuk menginstruksikan agar para pengecer bisa berjalan kembali,” tutur Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (4/2/2025).

Langkah grasa-grusu ini bukan saja membuat kelangkaan dan antrean, tapi juga memakan korban jiwa. Yonih (62), warga Pamulang, Tangerang Selatan, meninggal dunia setelah mengantre membeli gas elpiji 3 kilogram pada Senin (3/2/2025) sekitar pukul 12.30 WIB.

Usai kegaduhan, Ketum Partai Golkar itu mengakui dirinya bersalah karena memutuskan menghapus pengecer elpiji 3 kilogram. Dia juga akui kurang berkoordinasi dalam menerapkan kebijakan tersebut, serta siap bertanggung jawab.

image_print
1 2 3
Stories
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.