UPDATE

NASIONAL

Hati-hati Bikin Kebijakan terkait Perut Rakyat, Bahlil Lahadalia Jangan Jadi Benalu Prabowo

“Bapak punya alat untuk bertindak bukan rakyat yang dikorbankan. Yang kedua kalau kami jadi sub pangkalan persyaratannya apa?” ucap dia berapi-api.

“Tidak ada persyaratan,” jawab Bahlil sembari memegang tangan Effendi untuk menenangkannya yang terlihat begitu emosi.

Dia juga mempersoalkan ketentuan warga wajib menunjukkan KTP saat membeli gas di pangkalan. Effendi tidak setuju karena hal ini merupakan privasi.

Bahlil kembali mencoba menenangkan, dengan berdalih bahwa tujuan kebijakannya untuk menjaga kestabilan harga di kalangan konsumen. Dia juga menyuruh Effendi untuk kembali ke antrean agar bisa segera mendapatkan gas melon, lalu pulang ke rumah. “Bapak saya pikir yang penting bapak ambil dulu, antre. Kita layani, tidak ada kelangkaan. Oke ya Pak,” kata Bahlil sembari menepuk halus punggung Effendi.

Jawaban Bahlil bukan bikin tenang, Effendi malah semakin emosi. Dia mengatakan, antrean ini justru menyusahkan dan membuat anaknya di rumah menangis kelaparan.

“Saya sekarang lagi masak, saya tinggal di rumah. Bukan antre gas-nya, anak kami lapar butuh makan, butuh kehidupan Pak! Logika jalan dong Pak!” ucap dia dengan suara bergetar.

Melihat respons ini, Bahlil jadi salah tingkah cuma bisa senyum-senyum kecut sembari tangannya terus menepuk pundak Effendi, berharap dia bisa meredakan emosinya. Beruntung para petugas di sekitar membantu melerai dan menarik Effendi pelan-pelan. “Sudah sudah, kita paham Pak,” kata Bahlil.

Courtesy: Media

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.