Hamzeh Safavi- seorang analis Politik dan putra dari Penasihat Militer utama Khamenei, Yahya Safavi- mengungkapkan kalau para pejabat keamanan Iran yakin Israel mungkin masih mencoba membunuh Khamenei, bahkan di tengah gencatan senjata.
Oleh karena itu, kata Safavi, pejabat keamanan Iran menerapkan protokol keamanan ekstrem dengan cara membatasi kontak Khamenei dengan dunia luar.
Meski demikian, Safavi yakin Khamenei tetap terlibat dalam pengambilan keputusan penting, meskipun dari jarak jauh.
“Ada pandangan pragmatis yang mulai mengemuka dalam mengelola negara keluar dari krisis ini, dengan memberdayakan pemimpin lain, seperti Presiden Masoud Pezeshkian,’’ ujar Safavi.
Empat pejabat senior Iran, yang mengetahui diskusi kebijakan Iran saat ini mengungkapkan kalau selama Khamenei tidak hadir para politisi dan komandan militer sedang sibuk membentuk aliansi dan bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.
Faksi-faksi ini memiliki visi yang berbeda tentang seberapa jauh Iran harus mengembangkan program nuklirnya, bernegosiasi dengan Amerika Serikat, dan relasi dengan Israel.
Menurut empat pejabat tersebut, faksi yang saat ini unggul mendorong adanya diplomasi dan moderasi.
Faksi ini mencakup Pezeshkian, yang secara terbuka menyatakan kesediaannya untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat, bahkan setelah insiden pengeboman fasilitas nuklir Iran oleh Trump.
Pada rapat kabinet hari Rabu, Pezeshkian — yang mulai menjabat sebagai Presiden Iran tahun lalu menjanjikan reformasi untuk membuat Iran lebih sejahtera, lebih terbuka secara sosial, dan lebih terlibat dengan Barat — mengisyaratkan bahwa perlunya perubahan dalam cara Iran dikelola.
“Perang dan persatuan di antara rakyat telah menciptakan kesempatan untuk mengubah pandangan kita tentang tata kelola dan perilaku pejabat kita,” kata Pezeshkian kepada kabinetnya, menurut laporan rapat yang dirilis oleh kantor presiden.
“Ini adalah kesempatan emas untuk perubahan,” lanjutnya.
Di sisi lain, faksi konservatif rival, yang dipimpin oleh politisi Saeed Jalili, secara terbuka mengkritik Presiden dan Menteri Luar Negerinya.
Mereka mempertanyakan legitimasi apa yang membuat Iran untuk mengambil langkah “gencatan senjata mengejutkan”.
Faksi konservatif itu juga mengecam kembalinya negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat.
Foad Izadi, seorang analis politik konservatif yang dekat dengan Jalili dan Garda Revolusi, dalam sebuah unggahan media sosial mengatakan upaya Pezeshkian untuk bernegosiasi bersama AS memberi kesan kalau Presiden Iran saat ini tidak memiliki kompetensi politik yang diperlukan untuk memerintah negara.






























































Beri Komentar