Gelombang Penangkapan: Turki Bersih-Bersih Jaringan Mossad
Penangkapan Budak Derya dan Karimoglu bukanlah kasus terisolasi. Badan intelijen dan keamanan Turki telah melakukan serangkaian operasi terhadap agen Mossad dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Oktober 2024, pihak berwenang mengumumkan penangkapan Serkan Cicek, seorang warga negara Turki yang nama aslinya adalah Mehmet Fatih Kalash, dalam operasi yang diberi kode nama “Metron”.
Cicek terbukti bekerja untuk Mossad dan terhubung dengan seorang anggota Pusat Operasi Online Israel bernama Faisal Rashid. Ia telah setuju melakukan kegiatan spionase yang menargetkan seorang aktivis Palestina yang menentang praktik Israel di Timur Tengah.
Pada 5 April 2024, delapan orang ditangkap di Istanbul karena mengumpulkan informasi tentang individu dan perusahaan di Turki yang menjadi target Mossad dan mentransfer informasi serta dokumen tersebut kepada badan intelijen Israel.
Operasi terbesar terjadi pada 2 Januari 2024, dalam operasi “Kuburan Mata-Mata”, di mana 34 orang dari berbagai kewarganegaraan Arab ditangkap, termasuk warga Palestina, Suriah, Mesir, Irak, dan Lebanon. Mereka dituduh memata-matai warga asing yang tinggal di Istanbul, khususnya warga Palestina.
46 Agen dalam Satu Jaringan
Investigasi yang dilakukan oleh Divisi Kontra-Terorisme Istanbul dan intelijen Turki mengungkapkan bahwa Mossad telah merekrut 46 agen dalam sel ini untuk melakukan kegiatan pengawasan, pelacakan, penyerangan, dan bahkan penculikan terhadap warga Palestina dan warga asing yang tinggal di Turki dengan alasan kemanusiaan.
Skala operasi ini menunjukkan betapa serius Mossad memandang Turki, baik sebagai basis operasi maupun sebagai tempat di mana target-target mereka berkumpul.
Pesan Politik Erdogan
Serangkaian penangkapan ini juga membawa pesan politik yang kuat dari pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Turki, yang telah menjadi kritikus vokal kebijakan Israel terhadap Palestina, menunjukkan bahwa mereka tidak akan mentolerir operasi intelijen asing di wilayah mereka, terlebih yang menargetkan komunitas Palestina yang mencari perlindungan di Turki.
Bagi Mossad, kegagalan membangun markas besar di Turki merupakan pukulan strategis. Turki menawarkan posisi geografis ideal, jembatan antara Eropa dan Timur Tengah, dengan akses ke Asia dan Afrika Utara. Kehilangan kemampuan beroperasi bebas di sana membatasi jangkauan Mossad di kawasan yang sangat penting.
Permainan Intelijen yang Belum Berakhir
Meski berhasil menggagalkan operasi “Monitor” dan menangkap puluhan agen Mossad, perang intelijen antara Turki dan Israel kemungkinan besar belum berakhir. Metode rekrutmen yang canggih, penggunaan perusahaan fiktif, dan infiltrasi rantai pasokan menunjukkan bahwa Mossad akan terus mencari cara baru untuk beroperasi.

















































































































