UPDATE

SEJARAH

Kisah Shah Ismail I Mengubah Iran dari Negeri Sunni Menjadi Syiah

Selain itu, dia memerintahkan khutbah Jumat menyebut para imam Syiah dan bahkan mendorong penghinaan terhadap tiga khalifah pertama yang dihormati oleh Sunni—Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

Langkah-langkah ini memiliki tujuan jelas: membangun identitas religius baru yang membedakan Iran dari dunia Sunni di sekitarnya.

Proses perubahan mazhab di Iran tidak berlangsung secara damai. Banyak sejarawan mencatat bahwa pemerintahan Safawi menggunakan tekanan politik dan kekerasan untuk memaksakan konversi.

Shah Ismail menugaskan pejabat religius negara untuk menyebarkan doktrin Syiah ke wilayah yang baru ditaklukkan. Ulama Syiah dari Irak, Suriah, dan Lebanon juga diundang untuk membangun lembaga keagamaan baru.

Namun di sisi lain, perlawanan dari masyarakat Sunni sering berakhir dengan represi keras. Catatan sejarah menyebut ribuan Sunni dibunuh di Tabriz ketika terjadi penolakan terhadap kebijakan baru tersebut.

Sejumlah hakim, ulama, dan pejabat Sunni juga dieksekusi setelah kota-kota seperti Shiraz dan Isfahan jatuh ke tangan Safawi.

Metode seperti ini menunjukkan bahwa proses “Syiahisasi” Iran adalah proyek politik negara yang dijalankan secara sistematis.

Alasan Geopolitik: Melawan Ottoman

Mengapa Shah Ismail mengambil langkah ekstrem ini? Jawabannya tidak hanya terkait agama, tetapi juga geopolitik. Pada awal abad ke-16, dunia Islam didominasi oleh kekuatan Sunni besar seperti Ottoman Empire di Anatolia dan Balkan serta Kesultanan Mamluk di Mesir.

Dengan menjadikan Syiah sebagai ideologi negara, Safawi menciptakan garis pembeda yang jelas antara Iran dan kekuatan Sunni tersebut. Syiah menjadi alat legitimasi politik yang mempersatukan berbagai suku di Iran sekaligus membangun identitas nasional yang berbeda.

Strategi ini terbukti efektif. Dalam waktu singkat, Safawi berhasil menyatukan wilayah Iran yang sebelumnya terpecah-pecah sejak runtuhnya kekuasaan Mongol.

Proses konversi Iran berlangsung selama beberapa generasi setelah Shah Ismail. Namun fondasi yang dia bangun membuat perubahan itu hampir tidak dapat dibalik.

Pada abad ke-18, Iran telah berubah dari negara Sunni menjadi pusat Syiah dunia. Transformasi ini juga memengaruhi kawasan lain seperti Irak selatan, Azerbaijan, dan Lebanon.

Hari ini, sekitar 90 persen penduduk Iran menganut Syiah Imam Dua Belas—sebuah realitas yang berakar langsung pada keputusan politik Shah Ismail lima abad lalu.

Warisan Shah Ismail tidak hanya religius tetapi juga geopolitik. Konflik identitas antara Iran Syiah dan kekuatan Sunni di Timur Tengah modern sering dilihat sebagai kelanjutan dari rivalitas yang mulai terbentuk pada era Safawi dan Ottoman.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.