UPDATE

OPINI
OPINI

Tertahan di Hormuz: Keterlambatan Diplomasi dan Ujian Politik Bebas Aktif Indonesia

Oleh: Bobby Ciputra1

KAPAL tanker Malaysia dan Thailand sudah melintasi Selat Hormuz. Kapal Indonesia masih tertahan. Ada apa dengan Diplomasi Indonesia?

Pertanyaan sederhana ini membongkar retakan besar dalam politik luar negeri bebas aktif. Ini bukan hanya sekadar soal kapal. Ini soal posisi Indonesia di panggung dunia.

Selat yang Membekukan Dunia

Sejak eskalasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz berubah menjadi titik paling berbahaya di peta energi global. Data BBC Verify mencatat, lalu lintas kapal di selat itu anjlok drastis dari 138 kapal per hari menjadi kurang dari 100. Per 20-22 Maret, dikutip oleh Anadolu Agency sekitar 1.900 kapal dilaporkan tidak bisa bergerak di sekitar selat itu. Ini adalah krisis geopolitik yang menguji posisi setiap negara, termasuk Indonesia.

Iran akhirnya tidak menutup Selat Hormuz untuk semua Negara. Mereka membuat daftar. Hingga 26 Maret, negara yang secara eksplisit diizinkan melintas adalah China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Bangladesh. 

Iran menyatakan bahwa kapal dari “negara yang tidak bermusuhan” dipersilahkan melintas, asalkan berkoordinasi dengan otoritas Iran. Syarat ini terdengar terbuka tapi kenyataannya, Iran sedang membaca peta siapa kawan, siapa bukan.

Akan tetapi kapal tanker milik Malaysia dan Thailand sudah berhasil melintas. Ini yang sangat menarik. Karena keduanya bukan kekuatan besar global dan bertetangga dekat (regional peers) oleh Indonesia di Asia Tenggara. Di situlah letak masalahnya. Ternyata Indonesia memang tidak dianggap musuh. Tapi juga tidak cukup dianggap kawan.

Dua kapal tanker milik Indonesia, PT Pertamina International Shipping Pertamina Pride dan Gamsunoro hingga akhir Maret masih tertahan. Kargo di dalamnya bukan sembarang muatan. Minyak mentah Timur Tengah menyumbang 19 persen impor nasional.

Ketika Negara Tetangga Lebih Cepat Membaca Peta

Di tengah peluang Iran membuka keran izin secara selektif. Pemimpin otoritas tertinggi Thailand dan Malaysia melihat sedikit celah kesempatan dan bergerak sedikit lebih cepat.

Thailand menyelesaikan masalahnya dengan satu langkah konkret. Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow menelepon langsung Duta Besar Iran untuk Thailand di Bangkok, Nasereddin Heydari. Hasilnya kapal tanker milik Bangchak Corporation melintasi Selat Hormuz pada 23 Maret. Satu telepon. Satu hari. Selesai.

Malaysia tidak jauh berbeda. Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan sendiri bahwa kapal tanker Malaysia telah mendapat izin dari pemerintah Iran. Hubungan personal Anwar dengan Teheran yang dibangun jauh sebelum krisis ini menjadi modal besarnya.

  1. Ketua AMSI – Angkatan Muda Sosialis Indonesia[↩]
Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.