UPDATE

OPINI
OPINI

Tertahan di Hormuz: Keterlambatan Diplomasi dan Ujian Politik Bebas Aktif Indonesia

Sedangkan Pemerintah Indonesia per 4 Maret lalu, melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah sedang melakukan upaya negosiasi terkait dua kapal tanker (Pertamina Pride dan Gamsunoro) di Selat Hormuz, yang hampir sebulan kemudian hingga pertengahan akhir Maret 2026 ini masih tertahan di Selat Hormuz.

Ini bukan soal siapa yang sudah membangun jembatan sebelum krisis datang. Perbandingannya sedikit menyakitkan, tapi perlu disampaikan. Ini mencerminkan bagaimana negara-negara kekuatan menengah menghadapi konflik kekuatan besar di bawah tekanan.

Tiga Pertemuan Dua Pesan Satu Strategi

Menyadari bahwa jalur birokrasi konvensional telah gagal, Presiden Republik Prabowo Subianto terlihat mengambil alih kemudi dengan melakukan Emergency Damage Control (kendali kerusakan darurat) yang brilian. Ia tidak lagi mengandalkan nota diplomatik yang kaku, melainkan meluncurkan rangkaian manuver non-conventional untuk menambal retakan besar dalam posisi tawar Indonesia.

Pada 27 Maret 2026, sehari setelah Iran mengumumkan daftar resmi negara-negara yang kapalnya diizinkan melintasi Selat Hormuz. Prabowo melakukan tiga pertemuan yang terlihat tidak saling terhubung. Pertemuan ini adalah strategi hedging, bermain di beberapa sisi sekaligus tanpa memihak siapapun yang sangat kalkulatif dan cerdas.

Prabowo menerima Menteri Keamanan Negara China (Minister of State Security – MSS), Chen Yi Xin di Istana Negara. Satu-satunya kekuatan dengan saluran langsung ke Teheran. Di hari yang sama, Prabowo bertemu Ray Dalio, figur elite keuangan AS, pendiri Bridgewater Associates yang kini menjadi penasihat bagi Danantara, badan pengelola investasi (Sovereign Wealth Fund) baru Indonesia yang dirancang untuk mengonsolidasikan aset strategis negara.

Selanjutnya, Prabowo menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim atas undangan yang disampaikan melalui sambungan telepon pada 23 Maret lalu. Dalam pertemuan dua jam yang membahas koordinasi regional untuk membuka Selat Hormuz. 

Ini adalah gerakan diplomasi bebas aktif multi-jalur untuk mengoreksi keterlambatan Indonesia. Logikanya sederhana namun cerdas. Membuka jalur ke Cina, membangun koalisi Global South dan mengirim sinyal ke Washington.

Prabowo melakukan eksekusi nyata politik bebas aktif. Tetap terbuka dengan semua kekuatan besar, tidak memusuhi siapa pun, tetapi juga tidak membiarkan Indonesia menjadi korban dari rivalitas dua kutub.

Hasilnya tidak butuh waktu lama. Pada hari yang sama, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A Mulachela mengumumkan bahwa Iran telah merespons positif permintaan Indonesia. Dua kapal tanker Pertamina yang selama berminggu-minggu tertahan akhirnya mendapat lampu hijau untuk melintas. 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.