UPDATE

EKONOMIMIGAS

Harga LPG Naik, Ilmuwan Indonesia Tawarkan Teknologi CubiTan Pengganti Gas Melon Bersubsidi

“Karena masih menggunakan tekanan tinggi, sistem pengisian membutuhkan material dengan kekuatan mekanik tinggi seperti CFRP. Secara teknis material ini sangat kuat, tetapi dari sisi biaya masih cukup mahal,” ujarnya.

Riset Libatkan Prof Susumu Kitagawa, Penerima Nobel Kimia 2025

Ke depan, tantangan utama dalam pengembangan CubiTan adalah menghadirkan material MOF yang mampu bekerja optimal pada tekanan rendah. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat menggunakan tabung yang sudah ada di masyarakat, seperti tabung melon LPG konvensional.

“Untuk menurunkan tekanan operasional, dibutuhkan MOF yang optimal pada tekanan rendah. Harapannya, kita bisa memanfaatkan tabung eksisting seperti LPG atau tabung CNG. Jika tetap di tekanan tinggi, maka diperlukan MOF dengan kekuatan mekanik yang sangat baik,” tambahnya.

Canggih juga menyebutkan, penggunaan MOF dalam sistem CubiTan berpotensi meningkatkan performa penyimpanan gas 1,5 hingga 2 kali dibandingkan tabung konvensional saat ini.

Sebagai bagian dari roadmap pengembangan, BRIN menargetkan dalam tiga tahun ke depan teknologi CubiTan dapat mencapai tahap purwarupa prakomersial.

“Fokus utamanya adalah untuk penggunaan rumah tangga serta distribusi energi di kawasan perumahan. Target kami dalam tiga tahun ke depan adalah menghadirkan purwarupa prakomersial untuk penggunaan rumah tangga dan distribusi gas di sektor perumahan,” kata Canggih.

Lebih jauh, pengembangan teknologi ini juga diharapkan memberikan dampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dari sisi global, BRIN telah memperkuat kolaborasi dengan Kyoto University melalui skema Sister Lab, termasuk keterlibatan Prof. Susumu Kitagawa, penerima nobel Kimia 2025.

“Kami juga telah menyelenggarakan kegiatan internasional seperti Nobel Lecture yang menghadirkan Prof. Susumu Kitagawa. Ini membuka peluang kolaborasi kelas dunia dengan para ilmuwan terkemuka,” ungkapnya.

Di tingkat nasional, ujarnya, inovasi CubiTan dinilai berpotensi menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Selain itu, teknologi ini juga dapat berkontribusi dalam menekan beban subsidi energi.

“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi subsidi LPG yang saat ini mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, menyediakan lapangan pekerjaan, dan pengembangan iklim riset berkelanjutan,” pungkasnya. ***

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.