UPDATE

OPINI
OPINI

Jumhur Hidayat dan Arus Utama Isu Lingkungan di Era Prabowo

 

Di pesisir utara Jawa, krisis lain mengintai: penurunan permukaan tanah. Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2024 lalu mengingatkan ancaman land subsidence di Pantai Utara Jawa. Fenomena ini adalah kombinasi dari ekstraksi air tanah yang berlebihan, beban bangunan, dan hilangnya vegetasi mangrove di pesisir membuat rob menjadi bencana tahunan. Ribuan rumah terendam permanen. Ini bukan lagi isu lingkungan, tapi isu keadilan spasial.

Dalam konteks inilah karakter Jumhur Hidayat relevan. Sebagai aktivis, ia terbiasa berhadapan dengan oligarki dan birokrasi yang resisten. 

Karakter kerasnya menghadapi ketimpangan mungkin yang dicari Prabowo untuk membongkar dan menghentikan mafia izin tambang dan pembalakan liar. 

 

Tantangan terbesar Jumhur adalah konsistensi. Memang, kerap dikatakan bahwa aktivis yang masuk kekuasaan sering kali dijinakkan oleh sistem. Namun sejauh ini, rekam jejak Jumhur memperlihatkan hal sebalinya. 

Saat memimpin BNP2TKI, Jumhur terbukti punya daya tahan. Ia berani menghentikan pengiriman TKI ke Arab Saudi gegara seorang TKW, Ruyati binti Satubi, dihukum mati tanpa notifikasi. Ini protes yang tidak saja berdimensi kemanusiaan tapi juga mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Kini, ketegasan serupa juga dibutuhkan untuk menghentikan “pembunuhan diam-diam” lewat perusakan lingkungan yang bertopengkan konsensi.

Jumhur memiliki beberapa strategi untuk mengarusutamakan isu lingkungan hidup, antara lain:

– Integrasi kebijakan lingkungan hidup ke dalam semua kebijakan pemerintah

– Pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup

– Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan hidup

– Penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran lingkungan hidup dan perusakan sumber daya alam

– Inovasi teknologi ramah lingkungan

– Kerjasama internasional untuk mengatasi isu lingkungan hidup global

Dalam “Small is Beautiful” (1973), E.F. Schumacher mengingatkan: “Manusia tidak membuat alam, maka tidak berhak merusaknya tanpa batas.”  

 

Apakah pengangkatan Jumhur Hidayat akan berhasil membalik krisis lingkungan Indonesia? Jawabannya belum final. 

Tapi untuk pertama kali dalam dua dekade, KLH dipimpin sosok yang terbiasa dibenturkan dengan ketidakadilan, bukan diajak berdamai dengan ketidakadilan.

Jika Jumhur gagal, itu adalah kegagalan politik. Namun jika Jumhur berhasil, maka kerusakan hutan, tambang yang serampangan, sungai yang mati, dan pesisir yang tenggelam bisa punya harapan baru.  

Kata Pramoedya Ananta Toer dalam “Bumi Manusia” (1980), “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.