Berdasarkan itu, Jumhur sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berstatus sebagai terpidana dalam pengertian yang ia yakini, karena dasar hukum yang digunakan kemudian dibatalkan dalam proses tersebut.
Di titik ini, kita melihat satu pola yang konsisten dimana ia selalu berada di sisi yang berisik, bukan yang diam. Ia memilih risiko, bukan kenyamanan. Dan justru karena itulah kekhawatiran “beruang sirkus” menjadi relevan.
Karena lingkungan hidup bukan sekadar soal teknis, tetapi soal keberanian menghadapi kekuatan besar.
Di sana ada tambang dengan investasi triliunan, perkebunan dengan jaringan global, dan proyek-proyek strategis yang sering kali lebih kebal dari kritik daripada hutan dari kebakaran.
Masalah lingkungan kita hari ini seperti penyakit kronis yang sudah lama diabaikan. Mari tengok sebagian daftarnya.
Deforestasi berjalan seperti rutinitas birokrasi. Tambang meninggalkan lubang yang lebih setia daripada janji reklamasi.
Sungai berubah warna tanpa pernah mengajukan protes resmi. Dan banjir datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai penghuni tetap.
Udara kota-kota besar menebal seperti janji kampanye yang terasa, tapi sulit dipegang. Kebakaran hutan datang tiap tahun seperti ritual yang gagal dihentikan.
Sampah plastik mengalir dari darat ke laut, menjadikan samudera seperti tempat pembuangan raksasa yang tak pernah tutup. Pesisir terkikis pelan-pelan, seolah negeri ini sedang digerogoti dari tepi.
Konflik lahan antara masyarakat adat dan korporasi terus berulang, seperti drama lama yang tak pernah tamat episodenya.
Dalam situasi seperti ini, Menteri Lingkungan Hidup bukan sekadar pejabat. Ia adalah penjaga garis terakhir.
Tetapi garis itu tidak dijaga dengan pidato. Ia dijaga dengan keputusan yang sering kali tidak populer.
Apakah berani menghentikan izin? Apakah berani menata ulang konsesi? Apakah berani mengatakan bahwa tidak semua investasi adalah berkah?
Di sinilah ujian bagi Jumhur menjadi nyata. Ia tidak lagi cukup menjadi aktivis yang benar. Ia harus menjadi pengambil keputusan yang berani.
Namun keberanian di dalam sistem berbeda dengan keberanian di luar. Di luar, lawan terlihat jelas. Di dalam, lawan sering memakai jas yang sama.
Dan di sinilah peran Prabowo Subianto menjadi penentu. Apakah ia memberi ruang bagi keberanian itu tumbuh, atau justru mengharuskannya menyesuaikan diri dengan irama kekuasaan?
Karena tanpa dukungan Politik, seorang menteri lingkungan hidup bisa berubah menjadi sekadar simbol atau lebih buruk lagi, menjadi bagian dari dekorasi.
















































































































Komentar Terbaru